Showing posts with label HOT NEWS. Show all posts
Showing posts with label HOT NEWS. Show all posts
Pengertian Dinamika Kelompok
Jika dilihat dari asal katanya, dinamika
memiliki arti tenaga/kekuatan yang selalu bergerak, berkembang dan
dapat menyesuaikan diri secara memadai terhadap setiap keadaan keadaan.
Sedangkan kelompok merupakan kumpulan orang-orang
yang merupakan kesatuan sosial yang mengadakan interaksi yang intensif
dan mempunyai tujuan bersama.
Dengan demikian dinamika kelompok merupakan sebuah konsep
yang menggambarkan proses kelompok yang selalu bergerak, berkembang dan
dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang selalu berubah-ubah.
Dinamika
kelompok merupakan sinergi dari semua faktor yang ada dalam suatu
kelompok, artinya merupakan pengerahan secara serentak semua factor yang
dapat digerakkan dalam kelompok itu. Dengan demikian, dinamika kelompok
merupakan jiwa yang menghidupkan dan menghidupi suatu kelompok.
Dinamika
kelompok digunakan untuk menyebut suatu ideology atau pandangan yang
berkaitan dengan cara-cara bagaimana kelompok harus diorganisasikan dan
dikelola. Ideology ini menekankan pentingnya kepemimpinan yang
demokratis, keikutsertaan para anggota dalam mengambil keputusan , dan
pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan kerjasama dalam kelompok
demi kepentingan individu dan masyarakat.
Dinamika kelompok digunakan untuk menyebut sejumlah teknik seperti permainan peranan, diskusi kelompok, observasi dan
pemberian balikan terhadap proses kelompok , dan pengambilan keputusan
kelompok, yang secara luas digunakan dalam kelompok-kelompok latihan
pengembangan keterampilan hubungan antar manusia, dalam
pertemuan-pertemuan dan rapat-rapat kepanitiaan.
Dinamika
kelompok digunakan untuk menyebut suatu penelitian untuk memperoleh
pengetahuan tentang hakekat kelompok, hokum-hukum perkembangan kelompok,
dan antar hubungan anggota-anggotanya, hubungan dengan kelompok lain
dan dengan lembaga-lembaga yang lebih luas.
Dalam kaitannya dengan kegiatan bimbingan, Shertzer dan stone (dalam tatiek, 1989: 36)
mengemukakan dinamika kelompok adalah kekuatan-kekuatan yang
berinteraksi dalam kelompok pada waktu kelompok melakukan
kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuannya.
Prayitno
(1995:22) mengemukakan bahwa kelompok yang baik ialah apabila kelompok
itu diwarnai oleh semangat yang tinggi, kerjasama yang lancar dan mantap
serta adanya saling mempercayai diantara anggota-anggotanya. Kelompok
yang baik seperti itu akan terwujud apabila para anggotanya saling
bersikap sebagai kawan dalam arti yang sebenarnya, mengerti dan menerima
secara positif tujuan bersama, dengan kuat merasa setia kepada
kelompok, serta mau bekerja keras atau bahkan berkorban untuk kelompok.
Berbagai kualitas positif yang ada dalam kelompok itu “bergerak”,
“bergulir” yang menandai dan mendorong kehidupan kelompok. Kekuatan yang
mendorong kehidupan kelompok itu dikenal sebagai dinamika kelompok.
Factor-faktor yang dapat mempengaruhi kualitas kelompok sebagaimana digambarkan diatas adalah:
a. Tujuan dan kegiatan kelompok
b. Jumlah anggota
c. Kualitas pribadi masing-masing anggota kelompok
d. Kedudukan kelompok
e. Kemampuan
kelompok dalam memenuhi kebutuhan anggota untuk saling berhubungan
sebagai kawan, kebutuhan untuk diterima, kebutuhan akan rasa aman,
kebutuhan akan bantuan moral, dan sebagainya.
B. Peranan dinamika kelompok dalam bimbingan kelompok dan konseling kelompok
Suasana
kelompok, yaitu antar hubungan dari semua orang yang terlibat dalam
kelompok, dapat merupakan wahana dimana masing-masing anggota kelompok
itu (secara perorangan) dapat memanfaatkan semua informasi, tanggapan,
dan berbagai reaksi dari anggota kelompok lainnya untuk kepentingan
dirinya yang bersangkut paut dengan pengembangan diri anggota kelompok
yang bersangkutan. Kesempatan timbal balik inilah yang merupakan
dinamika dari kehidupan kelompok (dinamika kelompok) yang akan
membawakan kemanfaatan bagi para anggotanya.
Melalui
dinamika kelompok setiap anggota kelompok diharapkan mampu tegak
sebagai perorangan yang sedang mengembangkan kediriannya dalam
hubungannya dengan orang lain. Pengembangan pribadi kedirian dan
kepentingan orang lain atau kelompok harus dapat saling menghidupi.
Masing-masing perorangan hendaklah mampu mewujudkan kediriannya secara
penuh dengan selalu mengingat kepentingan orang lain. Dalam hal ini,
layanan kelompok dalam bimbingan dan konseling seharusnya menjadi tempat
pengembangan sikap, keterampilan dan keberanian social yang bertenggang
rasa.
Secara
khusus, dinamika kelompok dapat dimanfaatkan untuk pemecahan masalah
pribadi para anggota kelompok, yaitu apabila interaksi dalam kelompok
itu difokuskan pada pemecahan masalah pribadi yang dimaksudkan. Dalam
suasana seperti itu, melalui dinamika kelompok yang berkembang,
masing-masing anggota kelompok akan menyumbang baik langsung maupun
tidak langsung dalam pemecahan masalah pribadi tersebut.
C. Jenis-Jenis Kelompok
1. Kelompok Primer dan Kelompok Sekunder
Kelompok
primer diwarnai oleh hubungan pribadi secara akrab dan kerjasama yang
terus menerus diantara para anggotanya. Contoh: kesatuan anak-anak
sepermainan, kesatuan sekelompok remaja, dan sebagainya.
Kelompok
sekunder didasarkan pada kepentingan-kepentingan tertentu yang mewarnai
arah kegiatan dan gerak gerik kelompok itu, seperti kelompok politik,
kelompok keagamaan, kelompok para ahli pada suatu bidang. Keberadaan dan
kegiatan kelompok sekunder tidak tergantung pada hubungan pribadi
secara akrab meskipun hubungan antar anggota (baik langsung ataupun
tidak langsung) tetap ada.
2. Kelompok Sosial dan Kelompok Psikologikal
Pada
kelompok social, tujuan yang ingin dicapai biasanya tidak bersifat
pribadi (impersonal), melainkan merupakan tujuan bersama untuk
kepentingan bersama. Contoh: persatuan buruh.
Sedangkan pada kelompok psikologikal pada dasrnya lebih bersifat mempribadi (personal). Para
anggota kelompok psikologikal memasuki kelompok itu biasanya didorong
oleh kepentingan yang menyangkut hubungan antar pribadi. Contoh:
himpunan para korban kebakaran.
3. Kelompok Terorganisasikan dan Kelompok Tidak Terorganisasikan
Kelompok
terorganisasikan memiliki ciri utama adanya pemimpin yang mengatur dan
memberi kemudahan dan mengawasi dijalankannya peranan masing-masing
anggota.
Sedangkan
pada kelompok yang tidak terorganisasikan para anggotanya bertindak
lebih bebas, tidak saling terikat pada anggota lain, dan adanya
fleksibilitas yang besar.
4. Kelompok formal dan kelompok informal
Kelompok
formal terbentuk berdasarkan tujuan dan aturan tertentu yang bersifat
resmi (dan tertulis). Gerak dan kegiatan kelompok diatur dan tidak boleh
menyimpang dari ketentuan yang telah dibuat untuk itu. Aturan ini
biasanya tertulis dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.
Sedangkan
pada kelompok informal keberadaan dan gerak gerik kelompok didasarkan
pada kemauan, kebebasan dan selera orang-orang yang terlibat didalamnya.
Kelompok Dalam Layanan Bimbingan Dan Konseling Kelompok
Kelompok
yang dipergunakan sebagai wadah atau wahana bagi layanan bimbingan dan
konseling melalui pendekatan kelompok ialah kelompok-kelompok sekunder,
psikologikal, tidak terorganisasikan dan informal. Selain itu, dalam
pelaksanaan layanan Bimbingan dan Konseling melalui pendekatan kelompok,
ada dua jenis kelompok yang dapat dikembangkan, yaitu kelompok bebas
dan kelompok tugas.
· Kelompok bebas
Melakukan
kegiatan kelompok tanpa penugasan tertentu, dan kehidupan kelompok itu
memang tidak disiapkan secara khusus sebelumnya. Perkembangan yang akan
timbul di dalam kelompok itulah nantinya yang akan menjadi isi dan
mewarnai kehidupan kelompok itu lebih lanjut. Kelompok ini memberikan
kesempatan kepada seluruh anggota kelompok untuk menentukan arah dan isi
kehidupan kelompok itu.
· Kelompok tugas
Arah
dan isi kegiatan kelompok ditetapkan terlebih dahulu. Kelompok tugas
Pada dasarnya diberi tugas untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Kelompok
bebas dapat mengubah dirinya menjadi kelompok tugas, apabila kelompok
itu mengikatkan diri untuk sesuatu tugas yang ingin diselesaikan.
Dinamika kelompok diarahkan untuk penyelesaian tugas itu.
D. Usaha Menggerakkan Dinamika kelompok
Dinamika
kelompok harus hidup, mengarah pada tujuan yang ingin dicapai, dan
membuahkan manfaat bagi masing-masing anggota kelompok. Dengan demikian,
usaha yang dapat dilakukan oleh anggota kelompok untuk hal ini yaitu:
· Membantu terbinanya suasana keakraban dalam hubungan antar anggota kelompok.
· Mencurahkan segenap perasaan dalam melibatkan diri dalam kegiatan kelompok.
· Berusaha agar yang dilakukannya itu membantu tercapainya tujuan bersama.
· Membantu tersusunnya aturan kelompok dan berusaha mematuhinya dengan baik.
· Benar-benar berusaha untuk secara aktif ikut serta dalam seluruh kegiatan kelompok.
· Mampu berkomunikasi secara terbuka.
· Berusaha membantu anggota lain.
· Memberi kesempatan kepada anggota lain untuk juga menjalankan peranannya.
· Menyadari pentingnya kegiatan kelompok itu.
Usaha yang dapat dilakukan oleh pemimpin kelompok untuk menghidupkan dinamika kelompok, yaitu:
· Mempersiapkan anggota kelompok untuk peranan yang harus dimainkannya.
· Memperhatikan anggota-anggota kelompok dalam menjalani kegiatan kelompok
· Memperhatikan setiap tingkah laku (baik ucapan, tindakan, maupun isyarat) yang ditampilkan oleh setiap anggota kelompok.
· Memperhatikan keikutsertaan anggota-anggota kelompok dalam memecahkan masalah-masalah yang timbul.
· Sanggup merangsang diawalinya kegiatan-kegiatan kelompok
E. Pembentukan Anggota Kelompok
Keanggotaan
kelompok dapat bersifat tidak sukarela atau sukarela. Keanggotaan dalam
kelompok keluarga tertentu adalah tidak sukarela. Ada beberapa
organisasi (kelompok) yang anggota-anggotanya terhimpun didalam kelompok
itu atas dasar kedudukannya. Dalam kelompok seperti ini semua orang
yang menduduki jabatan atau status yang dimaksud, mau tidak mau menjadi
anggota dari kelompok itu. Sebaliknya, kelompok yang keanggotaannya
bersifat sukarela biasanya lebih bebas dan peranan anggota lebih besar
dalam menentukan gerak dan kegiatan kelompok itu.
Alasan seseorang mau memasuki suatu kelompok secara sukarela:
· Dalam kelompok dapat dicapai tujuan atau kepentingan pribadi yang penting, misalnya kedudukan dan penghargaan
· Kelompok itu menyajikan kegiatan-kegiatan yang menarik, seperti diskusi, menjelajah alam, darmawisata, olahraga, dan sebagainya.
· Dengan
memasuki kelompok itu kebutuhan-kebutuhan tertentu dapat terpenuhi,
seperti kebutuhan untuk memiliki dan dimiliki, kebutuhan untuk dikenal
oleh orang lain, kebutuhan akan rasa aman, dan sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Prayitno. 1995. Layanan Bimbingan Dan Konseling Kelompok (Dasar Dan Profil). Jakarta: Ghalia Indonesia
Romlah, tatik. 1989. Teori Dan Praktik Bimbingan Kelompok. Jakarta: Depdikbud
Lisa Putriani, 2011. Bk n Psikologi. Dinamika Kelompok. http://bknpsikologi.blogspot.com/2011/01/dinamika-kelompok.html. Diakses pada tanggal 4 September 2012, pukul 15:52 WIB : Padang, Sumatera Barat.
Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan
tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing.
Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam
kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan
kelompok itu sendiri.
Enkulturasi
Berbicara
tentang enkulturasi kebudayaan berarti membicarakan seluk beluk
antropologi yaitu membicarakan tentang kotak-kotak kebudayaan (culture contact).
Penelitian terhadap studi enkulturasi di Amerika, bermula dari reaksi
terhadap suatu upaya rekonstruksi "memory culture". Kajian enkulturasi
kebudayaan berawal dari Inggeris, Perancis, dan Belanda untuk memecahkan
masalah-masalah praktis di daerah penjajahan; juga faktor utama yang
menyebabkan semakin populernya kajian ini. Sementara di Amerika
perkembangan pesat dari studi enkulturasi adalah lebih berkaitan dengan
berbagai masalah sosial yang timbul sebagai akibat masa depresi ekonomi (malaise). (Poerwanto, 1997; 56).
Definisi enkulturasi yang sistematik, pertama kalinya dikemukakan oleh Redfield, Linton dan Herskovits (1936): "Acculturation
comprehends these phenomena which result when groups of individuals
having different cultures come into continous first-hand contact, with
subsequent changes in the original cultural patters of either or both
groups". Sementara itu terdapat kritikan yang meluas tentang
pembatasan tersebut, dan kemudian beberapa penulis melakukan modifikasi;
termasuk juga dilakukan oleh tiga orang tersebut di atas. Sekalipun
demikian, umumnya mereka tetap berpegang pada definisi tadi sekalipun
memahaminya diperlukan beberapa pertimbangan untuk selalu melihat dalam
keterkaitannya dengan keseluruhan dari isi memorandum. Beberapa point
yang sangat sulit untuk ditafsirkan adalah (1) apa sebenarnya pengertian
"continous first-hand contact"; (2) apa pengertian dari "groups of individuals";
(3) bagaimanakah hubungan antara enkulturasi dengan konsep perubahan
kebudayaan dan defusi; (4) bagaimanakah hubungan antara enkulturasi dan
asimilasi; dan (5) apakah enkulturasi sebagai suatu proses ataukah
menunjukkan pada suatu keadaan (a process or a condition).
Dalam salah satu tulisan Thurnwald (1932) bahkan mengatakan bahwa enkulturasi "Acculturation is a process, not an isolated event",
sebagai implikasi dari pernyataannya itu, ia lebih menekankan suatu
proses yang terjadi pada tingkat individual, karenanya "suatu proses
adaptasi terhadap kondisi kehidupan baru" itulah yang disebut
enkulturasi. Selain itu juga berpendapat bahwa "suatu hubungan bukan
hanya peristiwa tunggal semata tetapi secara tidak langsung dapat
diputar dari kedudukan tombolnya yang hampir menyerupai serangkaian
gerakan-gerakan yang hampir selesai terjadi; kesemuanya itu adalah
sebagai suatu proses dengan perbedaan tahapan".
Imran
Manan, PhD, (1989; 9) menyebutkan enkulturasi dalam arti luas,
pendidikan termasuk ke dalam proses umum, di mana seseorang anak
bertumbuh diinisiasikan ke dalam cara hidup dari masyarakatnya.
Pendidikan mencakup setiap proses, kecuali yang bersifat genetic, yang
menolong membentuk pikiran, karakter, atau kapasitas fisik seseorang.
Proses tersebut berlangsung seumur hidup, karena kita harus mempelajari
cara berpikir dan bertindak yang baru dalam perubahan besar dalam hidup
kita. Dalam arti sempit pendidikan, adalah penanaman pengetahuan,
keterampilan dan sikap pada masing-masing generasi dalam menggunakan
pranata-pranata, seperti sekolah-sekolah yang sengaja diciptakan untuk
tujuan tersebut. Istilah pendidikan juga berarti disiplin ilmu (termasuk
psikologi, sosiologi, sejarah, dan filosofi pendidikan).
Proses Enkultirasi Kebudayaan
Pendidikan
di sekolah hanya merupakan salah satu alat enkulturasi - pendidikan
yang lain, mencakup keluarga, gereja, kelompok sebaya dan media masa
masing-masing dengan nilai-nilai dan tujuan-tujuannya sendiri. Demikian
pula pendidik mungkin ingin menanamkan kualitas tertentu pada anak-anak,
seperti berpikir bersih dan pertimbangan bebas, namun pendidik terbatas
kesanggupan untuk berbuat demikian karena kenyataannya badan-badan lain
mungkin membentuk anak secara berbeda. Televisi, umpamanya,
kadang-kadang berusaha memberi informasi, tetapi kebanyakan TV memberi
hiburan, kadang-kadang sensasi, dan secara tetap "menjualkan" melalui
insinuasi, penonjolan, dan bujukan.
Conny
R. Semiawan (2007; 118) menyebutkan bahwa pendidikan itu merupakan
"proses membebaskan diri", di mana insan manusia memperoleh peluang
mengaktualisasi diri secara optimal "to become what he is capable of",
suatu upaya untuk memberdayakan manusia sesuai kemampuan yang ada
padanya dan sesuai pilihannya sendiri. Ini adalah suatu pengembangan
kemampuan manusia (human capacity development, HCD). Pernyataan
ini menggaris bawahi bahwa pendidikan membantu manusia untuk merubah dan
mengembangkan dirinya serta meng-enkulturasi diri bukan
meng-diisolasikan diri.
Proses enkulturasi kebudayaan terdapat beragam pendapat sebagaimana yang penulis sebut di atas, apakah enkulturasi merupakan; ;continous first-hand contact"; groups of individuals;
bagaimanakah hubungan antara enkulturasi dengan konsep perubahan
kebudayaan dan defusi; bagaimanakah hubungan antara enkulturasi dan
asimilasi; dan a process or a condition. Enkulturasi merupakan
proses kebudayaan dan berkaitan dengan "Sistem nilai budaya dalam
kebudayaan" dari semua kebudayaan yang ada di dunia. Kerangka ini telah
dikembangkan oleh seorang ahli antropologi, Clyde Kulkckhohn. Sesudah
ia meninggal, konsepnya dikembangkan lebih lanjut oleh istrinya Florence
Kulkckhohn, yang dengan kerangka itu kemudian melakukan suatu
penelitian yang nyata. Uraian tentang konsep itu bersama hasil
penelitiannya dimuat dalam sebuah buku berjudul Variations in value Orientation
(1961), yang ditulisnya bersama dengan seorang ahli sosiologi bernama
F.L. Strodtbeck. Kerangka Kulkckhohn dapat dilihat pada tabel berikut
ini;
Masalah dasar dalam hidup
|
Orientasi Nilai- budaya
| ||
Hakekat hidup
(MH)
|
Hidup itu buruk
|
Hidup itu baik
|
Hidup itu buruk, tetapi manusia wajib berikhtiar supaya hidup itu menjadi baik
|
Hakekat karya
(MK)
|
Karya itu untuk nafkah hidup
|
Karya itu untuk kedudukan, kehormatan, dan sebagainya
|
Karya itu untuk menambah karya
|
Persepsi Manusia tentang waktu
(MW)
|
Orientasi ke masa depan
|
Orientasi ke masa lalu
|
Orientasi ke masa depan
|
Pandangan manusia tentang alam
(MA)
|
Manusia tunduk kepada alam yang dahsyat
|
Manusia berusaha menjaga keselarasan dengan alam
|
Manusia berhasrat menguasai alam
|
Hakekat hubungan antara manusia dengan sesamanya
(MM)
|
Orientasi kolateral(horizontal), rasa ketergantungan pada sesamanya (berjiwa gotong royong)
|
Orientasi vertikal, rasa ketergantungan kepada tokoh-tokoh atasan dan berpangkat
|
Individualisme menilai tinggi usaha atas kekuatan sendiri
|
Menurut
Koentjaraningrat (1994; 25) bahwa sistem nilai budaya terdiri dari
konsepsi-konsepsi, yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga
masyarakat, mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat bernilai
dalam hidup.
Lisa Putriani, 2011. Bk n Psikologi. Dinamika Kelompok. http://bknpsikologi.blogspot.com/2011/01/dinamika-kelompok.html. Diakses pada tanggal 4 September 2012, pukul 15:52 WIB : Padang, Sumatera Barat.
Pengertian Kepribadian
Kepribadian
atau “personality” merupakan sifat dan tingkah laku yang membedakannya
dengan orang lain. Kepribadian seseorang dibentuk dan terbentuk oleh
factor internal dan eksternal. G. W All Port (1897), mengemukakan bahwa,
“personality is the dynamic organization within the individual those
psychological system that determine his unique adjustment to his
environment” . (Kepribadian adalah organisasi dinamis yang ada pada seseorang di dalam suatu system psikopisik yang menentukan keunikan atau corak yang khas dalam caranya menyesuaikan diri dengan lingkungannya).
· Organisasi
dinamis maksudnya kepribadian itu selalu aktif bergerak/berubah sebagai
suatu organisasi jiwa dan organisasi fisik dalam diri individu.
· System psikopisik maksudnya adalah bahwa perubahan tersebut adalah system jiwa.
· Corak yang khas maksudnya bahwa kepribadian menentukan keunikan penyesuaian diri individu terhadap lingkungan.
Kepribadian
adalah semua corak perilaku dan kebiasaan individu yang terhimpun dalam
dirinya dan digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap
segala rangsangan baik dari luar maupun dari dalam. Corak perilaku dan
kebiasaan ini merupakan kesatuan fungsional yang khas pada seseorang.
Perkembangan kepribadian tersebut bersifat dinamis, artinya selama
individu masih bertambah pengetahuannya dan mau belajar serta menambah
pengalaman dan keterampilan, mereka akan semakin matang dan mantap
kepribadiannya (Depkes, 1992).
PENDEKATAN AWAL DALAM MEMAHAMI KEPRIBADIAN
1. Pendekatan Pra-Ilmiah
Usaha-usaha
untuk menyusun teori maupun konsep yang utuh dalam rangka menjelaskan
perilaku manusia sudah sejak lama dilakukan orang. Usaha ini secara
terus menerus dilakukan dan diperbaiki secara bertahap karena disadari
pentingnya teori dan konsep yang utuh tentang perilaku manusia untuk
kepentingan kehidupan manusia itu sendiri.
Hasil
dari usaha-usaha penyusunan teori maupun konsep ini ada yang nilai
ilmiahnya masih jauh dari memadai dan karenanya dapat disebut dengan
usaha-usaha yang masih bersifat pra-ilmiah, usaha-usaha
yang bersifat pra-ilmiah merupakan usaha-usaha dalam memahami tingkah
laku manusia yang belum dilandasi oleh upaya-upaya pembuktian yang dapat
dipercaya. Pemahaman tingkah laku melalui cara-cara ini hanya
berdasarkan keyakinan dan kepercayaan yang muncul dari pengalaman yang
dialami.
a. Chirologi atau ilmu gurat-gurat tangan (Jawa:rajah)
Dasar
pikiran daripada pengetahuan ini ialah kenyataan bahwa gurat-gurat
tangan orang itu tidak ada yang sama satu sama lain, macamnya adalah
sebanyak orangnya. Jika sekiranya orang dapat mengenal
perbedaan-perbedaan serta sifat-sifat khusus gurat-gurat tangan
tersebut, maka dia akan mengenal perbedaan-perbedaan serta sifat-sifat
khas orangnya. Akan tetapi usaha yang biasa dilakukan orang tidaklah
sejauh itu; orang hanya memperhatikan beberapa gurat (garis) saja.
b. Astrologi atau ilmu perbintangan
Dasar
pikiran daripada pengetahuan ini ialah adanya pengaruh kosmis terhadap
manusia. Pada waktu seseorang dilahirkan, dia ada dalam posisi tertentu
terhadap benda-benda angkasa; jika sekiranya kita dapat mengenal
perbedaan-perbedaan mengenai soal ini dia juga akan dapat mengenal
perbedaan-perbedaan serta sifat-sifat khas orangnya; tapi biasanya usaha
yang dilakukan orang tidak sejauh itu, dan orang-orang yang lebih
kemudian secara tradisional meniru saja yang dikatakan oleh orang
sebelumnya, padahal reliabilitas dan vaiditas prinsip-prinsip yang telah
ada belum diuji.
c. Grafologi atau ilmu tentang tulisan tangan
Dasar
pikiran grafologi itu ialah demikian segala gerakan yang dilakukan oleh
manusia itu merupakan ekspresi daripada kehidupan jiwanya; jadi juga
gerakan menulis-dan selanjutnya tulisan sebagai hasil gerakan menulis
itu-merupakan bentuk ekspresi kehidupan jiwa. Kalau sekiranya orang
dapat mengetahui keadaan khusus tulisan seseorang dengan baik, berarti
ia juga dapat mengenal keadaan khusus kepribadian si penulisnya.
d. Physiognomi atau ilmu tentang wajah
Pengetahuan
ini berusaha memahami kepribadian atas dasar keadaan wajahnya. Dasar
pikiran untuk mengusahakan pengetahuan ini ialah keyakinan bahwa ada
hubungan antara keadaan wajah dan kepribadian. Hal-hal yang tampak pada
wajah dapat dipergunakan untuk membuat interpretasi mengenai apa yang
terkandung dalam jiwa.
Physiognomische
fragmente zur beforderung der menchenkenntniss und menschenliebe. Dalam
buku tersebut dia menerangkan antara lain:
· Keadaan dahi dan kening adalah petunjuk untuk mengerti kecerdasan seseorang
· Hidung dan pipi adalah bagian yang dapat memberikan tanda mengenai halus atau kasarnya perasaan seseorang
· Mulut dan dagu dapat memberikan petunjuk tentang nafsu makan, nafsu minum, dan sebagainya
· Mata adalah bagian yang mencerminkan seluruh kehidupan jiwa, dan sebagainya.
e. Phrenologi atau ilmu tentang tengkorak
Pengetahuan
ini bermaksud memahami kepribadian atas dasar keadaan tengkoraknya.
Dasar pikiran ajaran mereka itu ialah bahwa tiap-tiap fungsi atau
kecakapan itu masing-masing mempunyai pusatnya di otak. Jikalau salah
satu dari kecakapan itu keadaannya luar biasa, maka pusatnya di otak
itupun luar biasa besarnya. Akibat hal ini ialah bentuk tengkorak lalu
terubah oleh pusat yang membesar tersebut, sehingga ada
tonjolan-tonjolannya. Dengan mengukur secara teliti tonjolan-tonjolan
tersebut, dapat ditarik kesimpulan tentang kecakapan-kecakapan atau
sifat-sifat orangnya.
f. Onychologi atau ilmu tentang kuku
Onychologi
berusaha memahami kepribadian seseorang atas dasar kuku-kukunya. Kuku
di ujung jari itu mempunyai hubungan yang erat dengan susunan syaraf,
dengan cabang-cabangnya yang terhalus berujung di pucuk-pucuk jari.
Warna serta bentuk kuku dapat dipakai sebagai landasan untuk mengenal
kepribadian orangnya.
TIPOLOGI
Tipologi
adalah pengetahuan yang berusaha menggolongkan manusia menjadi
tipe-tipe tertentu atas dasar factor-faktor tertentu, misalnya
karakteristik fisik, psikis, pengaruh dominan nilai-nilai budaya, dan
lain-lain.
Macam-macam tipologi:
1. Tipologi Konstitusi Fisik
a. Tipologi Hippocrates-Galenus
Ajaran
tentang cairan badaniah ini, kemudian menjadi sangat terkenal dan
sangat besar pengaruhnya terhadap ahli-ahli yang lebih kemudian
dirumuskan oleh Hippocrates dan selanjutnya disempurnakan oleh Galenus
· Pendapat Hippocrates
Hippocrates
membahas kepribadian manusia dari titik tolak konstitusional.
Terpengaruh oleh kosmologi Empedokles, yang menganggap alam semesta dan
isinya ini tersusun dari 4 unsur dasar, yaitu: tanah, air, udara dan
api. Dengan sifat-sifat yang didukungnya itu kering, basah, dingin, dan
panas, maka Hippocrates berpendapat bahwa dalam diri seseorang terdapat 4
macam sifat tersebut yang didukung oleh keadaan konstitusional yang
berupa cairan-cairan yang adal dalam tubuh orang itu, yaitu:
Ø Sifat kering terdapat dalam Chole (empedu kuning)
Ø Sifat basah terdapat dalam Melanchole (empedu hitam)
Ø Sifat dingin terdapat dalam Phlegma (lender)
Ø Sifat panas terdapat dalam Sanguis (darah)
Keempat
cairan tersebut ada dalam tubuh dalam proporsi tertentu, apabila
cairan-cairan tersebut dalam tubuh selaras (normal), orangnya normal
(sehat), apabila keselarasan proporsi tersebut terganggu, maka orangnya
menyimpang dari keadaan normal (sakit)
· Pendapat Galenus
Galenus
menyempurnakan ajaran Hippocrates dan membeda-medakan kepribadian
manusia atas dasar keadaan proporsi campuran cairan-cairan tersebut.
Galenus sependapat dengan Hippocrates bahwa dalam manusia terdapat 4
macam cairan, yaitu:
Ø Chole (Koleris)
Ciri-cirinya
adalah; cenderung berorientasi pada pekerjaan dan tugas, mempunyai
disiplin kerja yang sangat tinggi, mampu melaksanakan tugas dengan setia
dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diembannya. Kelemahan tipe
ini adalah kurang mampu merasakan perasaan orang lain, kurang mampu
merasakan kasihan pada orang yang menderita dan perasaannya kurang
bermain. Kelompok ini perlu ditingkatkan kepekaan sosialnya melalui
pengembangan emosional yang seimbang dengan moral kognitifnya, sehingga
menjadi lebih peka terhadap orang lain.
Ø Melanchole (Melankolis)
Memiliki
ciri antara lain; terobsesi pada karyanya yang paling bagus atau paling
sempurna, mengerti estetika keindahan hidup, perasaannya sangat kuat
dan sangat sensitive. Kelemahannya; sangat mudah dikuasai oleh perasaan
dan cenderung yang mendasari hidupnya sehari-hari adalah perasaan yang
murung, oleh karena itu orang yang bertipe ini tidak mudah untuk senang
atau tertawa terbahak-bahak.
Ø Phlegma (Plegmatis)
Memiliki
ciri-ciri antara lain; cenderung tenang, gejala emosinya tidak tampak,
misalnya dalam kondisi sedih atau senang sehingga turun naik emosinya
tidak jelas. Orang dengan tipe ini cenderung dapat menguasai diri dengan
baik dan lebih introspektif memikirkan kedalam dan mampu melihat,
menatap dan memikirkan masalah-masalah yang terjadi disekitarnya. Mereka
seorang pengamat yang kuat, penonton yang tajam dan pengeritik yang
berbobot. Tipe ini memiliki kelemahan; ada kecendrungan untuk tidak mau
bersusah payah.
Ø Sanguis (Sanguin)
Orang
yang memiliki tipe ini memiliki ciri-ciri antara lain; memiliki banyak
kekuatan, bersemangat, mempunyai gairah hidup, dapat membuat
lingkungannya gembira dan senang. Tipe ini memiliki kelemahan antara
lain; cenderung impulsif, bertindak sesuai emosinya atau keinginannya.
Orang bertipe ini mudah dipengaruhi oleh lingkungannya dan ransangan
dari luar diri, kurang bisa menguasai diri atau penguasaan diri lemah
dan cenderung mudah jatuh dalam percobaan karena pengaruh dari luar
mudah memikatnya. Jadi, orang dengan kepribadian sanguine sangat mudah
dipengaruhi oleh lingkungannya dan ransangan luar dan kurang bisa
menguasai diri.
Kalau
satu cairan dalam tubuh itu melebihi proporsi yang seharusnya (jadi
dominan) maka akan mengakibatkan adanya sifat-sifat kejiwaan yang khas.
Sifat-sifat kejiwaan yang khas ada pada seseorang akibat daripada
dominannya salah satu cairan badaniah oleh Galenius disebutnya
tempramen. Jadi dengan dasar pikiran yang telah dikemukakan itu galenius
kepada penggolongan manusia menjadi 4 tipe tempramen beralas pada
dominasi salah satu cairan badaniahnya.
- Tipologi Viola
Viola,
seorang ahli dari Italia, mengemukakan tipologi yang didasarkan pada
bentuk tubuh sebagaimana telah dilakuakn penelitian oleh De Giovani.
Atas dasar aspek tersebut Viola mengemukakan tiga golongan atau tipe
bentuk tubuh manusia (Sumadi Suryabrata, 2005:18), yaitu :
1. Tipe Microsplanchnis, yaitu bentuk tubuh yang ukuran menegaknya lebih dari pada perbandingan biasa, sehingga yang bersangkutan kelihatan jangkung.
2. Tipe Macrosplanchnis, yaitu bentuk tubuh yang ukuran mendatarnya lebih dari pada perbandingan biasa, sehingga yang bersangkutan kelihatan pendek.
3. Tipe Normosplanchnis, yaitu bentuk tubuh yang ukuran menegak dan mendatarnya selaras, sehingga tubuh kelihatan selaras pula.
- Tipologi Sigaud
Sigaud,
seorang ahli psikologi dari Perancis, menyusun tipologi manusia
berdasarkan 4 macam fungsi tubuh, yaitu : motorik, pernafasan,
penecernaan, dan susunan saraf sentral. Dominasi salah satu fungsi
tubuhtersebut menentukan tipe kepribadian. Atas dasar pandangan di
ataskemudian Sigaud menggolongkan manusia menjadi 4 tipe, yaitu :
1. Tipe muskuler
Tipe
ini dimiliki oleh orang fungsi motoriknya paling menonjol dibanding
fungsi tubuh yang lain, dengan cirri khas : tubuh kokoh, otot-otot
berkembangan dengan baik, dan organ-oragan tubuh berkembang secara
selaras.
- Tipe respiratoris
Tipe ini ada pada orang yang memiliki fungsi pernafasan yang kuat dengan ciri-ciri : muka lebar serta thorax dan leher besar.
- Tipe digestif
Tipe
digestif terdapat pada orang yang memiliki fungsi pencernaan yang kuat
dengan cirri-ciri : mata kecil, thorax pendek dan besar, rahang serta
pinggang besar.
- Tipe cerebral
Tipe keempat dari tipologi Sigaud ada pada orang yang memiliki susunan saraf sentral yang kuat disbanding fungsi tubuh lainnya dengan cirri-ciri : dahi menonjol ke depan dengan rambut ditengah, mata bersinar, daun telinga lebar, serta kaki dan tangan kecil.
- Tipologi Sheldon
Sheldon
berpendapat bahwa ada tiga komponen jasmaniah yang mempengaruhi bentuk
tubuh manusia, yaitu : endomorphy, mesimorphy, dan ectomorphy.
Istilah-istilah tersebut oleh Sheldon dikembangkan dari istilah yang
berhubungan dengan terbentuknya foetus manusia, lapisan endoderm,
mesoderm, dan ectoderm. Menurut Sheldon dominasi dari dari salah satu
lapisan tersebut akan menyebabkan kekhasan terhadap bentuk tubuh. Dengan
demikian maka ada 3 tipe manusia berdasarkan bentuk tubuhnya, yaitu :
1) Tipe endomorph,
Tipe endomorph merupakan tipe yang disebabkan oleh dominannya komponen endomorphy terhadap dua komponen lainnya, ditandai oleh : alat-alat dalam dan seluruh sistem digestif memegang peran penting. Bentuk tubuh tipe ini kelihatan lembut, gemuk, berat badan relatif rendah.
2) Tipe mesomorph
Tipe mesomorph terbentuk oleh karena komponen mesomorphy yang lebih dominan dari koponen lainnya, maka bagian-bagian tubuh yang berasal dari mesoderm relatif berkembang lebih baik, yang ditandai dengan otot-otot, pembuluh darah, dan jantung dominan. Bentuk tubuh tipe mesomorph kelihatan kokok dan keras.
3) Tipe ectomorph
Pada tipe ini organ-organ yang berasal dari ectoderm (kulit dan sistem syaraf) yang terutama berkembang. Bntuk tubuh tipe ectomorph terlihat jangkung, dada kecil dan pipih, lemah, dan otot-otot tidak berkembang.
2. Tipologi Tempramen
Tipologi
temperamen merupakan tipologi yang disusun berdasarkan karakteristik
segi kejiwaan. Dasar pemikiran yang dipakai para tokoh yang
mengembangkan tipologi temperamen adalah bahwa berbagai aspek kejiwaan
seseorang seperti : emosi, daya pikir, kemauan, dst. Menentukan
karakteristik yang bersangkutan. Yang tergolong tipologi jenis ini
antara lain : tipologi Plato, tipologi Immanual Kant, tipologi Bhsen,
Tipologi Heymans, dst.
- Tipologi Plato
Menurut Plato kemampuan jiwa manusia terdiri dari 3 macam, yaitu pikiran, kemauan,dan hasrat. Dominasi salah satu kemampuan inilah yang menyebabkan kekhasan pada diri manusia. Atas dasar hal ini Plato menggolongan manusia ke dalam 3 tipe yaitu sebagai berikut.
1) Tipe manusia yang terutama dikuasai oleh pikirannya, yang
sesuai untuk menjadi pemimpin dalam pemerintahan.
2) Tipe manusia yang terutama dikuasai oleh kemauannya,
sesuai untuk menjadi tentara.
3) Tipe manusia yang dikuasai oleh hasratnya, cocok menjadi
pekerja tangan.
- Tipologi Heymans
Heymans menyatakan bahwa manusia memiliki tipe kepribadian yang bermacam-macam, namun dapat digolongkam menjadi delapan tipe atas dasar kualitas kejiwaannya, yaitu :
(1) emosionalitas, mudah tidaknya perasaan terpengaruh oleh kesan-kesan;
(2) proses pengiring, yaitu kuat lemahnya kesan-kesan ada dalam kesadaran setelah faktor yang menimbulkan kesan-kesan tersebut tidak ada.
(3) aktivitas, adalah banyak sedikitnya peristiwa-peristiwa kejiwaan menjelma menjadi tindakan nyata.
Masing-masing kualitas kejiwaan tersebut secara teoritis dibedakan menjadi dua macam, kuat dan lemah.
3. Tipologi Kebudayaan
Tipologi berdasarkan nilai-nilai kebudayaan dikembangkan oleh Eduard Spranger. Spranger menyatakan bahwa kebudayaan (culture)
merupakan sistem nilai, karena kebudayaan itu tidak lain adalah
kumpulan nilai-nilai budaya yang tersusun atau diatur menurut struktur
tertentu. Kebudayaan sebagai sistem nilai oleh Spranger di golongkan
menjadi 6 bidang yang secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua
kelopok, yaitu :
1) Bidang-bidang yang berhubungan dengan manusia sebagai individu, yang didalamnya terdapat 4 nilai budaya :
a) Pengetahuan
b) Ekonomi
c) Kesenian
d) keagamaan
2) Bidang-bidang yang berhubungan dengan manusia sebagai anggota masyarakat, yang didalamnya terdapat 2nilai budaya :
a. Kemasyarakatan
b. Politik
PENDEKATAN TRAITS
Pendekatan
yang didasarkan pada trait juga berusaha mendeskripsikan kepribadian.
Suatu trait adalah karakteristik individu yang sifatnya secara relatif
tetap dan konsisten serta berada dari orang yang satu dengan yang
lainnya. Teoritisi yang melakukan pendekatan ini salah satunya adalah
Gordon W. Allport. Cattell telah melakukan berbagai penelitian untuk
menemukan ciri-ciri dalam kepribadian manusia. Untuk memperoleh semua
trait yang dipelajari Cattell menggunakan tiga sumber daya, yaitu: life record data (L-data); questionnaire data (Q-data), dan objective test data (OTdata)
dan semua data tersebut kemudian dianalisis menggunakan metode
statistik yang amat kompleks seperti analisis faktorial dan multivariat.
Semua data yang terkumpul disebutnya personality sphere yang terdiri dari berbagai Trait. Beberapa trait hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu. Trait seperti ini disebut source traits, membedakan antara individu yang satu dengan individu yang lainnya. Source traits
tadi dalam perilaku sehari-hari tercermin dalam perilaku-perilaku yang
nampaknya sama dengan orang-orang lain, ini yang disebut sebagai surface traits.
Pada tahun 1936,Allport dan Odbert mendaftar 17.953 kata dalam bahasa
Inggris yang digunakan untuk melukiskan perilaku manusia. Setelah
dikurangi oleh kata-kata yang mempunyai arti tumpah tindih, tinggal 171
kata. Setiap kata dalam daftar ini dianggap dapat mewakili suatu trait.
Kemudian Allport berusaha mengelompokkan trait itu ke dalam tiga
kategori besar, yaitu:
(1). Cardinal traits
Ada
traits yang amat dominan sehingga hampir semua perilaku manusia dapat
ditelusuri kembali ke arah traits ini. Traits yang sangat luas
cakupannya tetapi sangat berpengaruh ini disebut cardinal traits dan
biasanya diberi istilah mengikuti nama dari seorang tokoh sejarah,
seperti Christlike; Machiavellian; Nixonian, dan sebagainya.
(2). Central Traits
Kategori kedua adalah central traits, suatu ciri-ciri kepribadian yang cukup menonjol tetapi tidak seluas cardinal traits. Istilah
yang digunakan untuk melukiskan traits ini sarna dengan yang dipakai
dalarn suatu surat rekomendasi yang baik atau yang dipakai seorang rater (orang
yang dijadikan penilai) dalam menilai tingkah laku seseorang. Menurut
Allport,jarang ada orang yang memiliki lebih dari 12 central traits.
(3). Secondary Traits
Kategori terakhir adalah secondary traits, ciri-ciri yang hanya berpengaruh pada situasisituasi
yang amat terbatas, seperti: "senang coklat", "suka mobil", dan sebagainya.
Pada
umumnya pendekatan tipologi trait dikritik karena secara metodologis
diragukan reliabilitas pengambilan istilah-istilah yang dipakai untuk
melukiskan trait. Selain itu pertanyaan filosofis muncul. Apakah
kepribadian kita sarna dengan sejumlah trait yang kita miliki? Ada ahli
yang mengajukan 5 traits, tetapi adajuga yang lebih dari 20.
TEORI PSIKODINAMIKA
Teori
kepribadian yang bersifat psikodinamik berasal dari para ahli yang
sangat dipengaruhi oleh Sigmund Freud (1856-1939), Bapak Psikoanalisis
yang sangat terkenal. Teori psikologi Freud didasarkan atas keyakinannya
bahwa dalam diri manusia terdapat suatu energi psikis yang sangat
dinamis. Sebagaimana hukum konservasi energi, Freud juga beranggapan
bahwa energi psikis bersifat kekal, tidak bisa dihilangkan, dan bila
dihambat akan mencari saluran lain. Energi psikis inilah yang mendorong
individu untuk bertingkah laku. Menurut psikoanalisis energi psikis itu
berasumsi pada fungsi psikis yang berbeda, yaitu: Id, Ego, dan Superego.
ld
merupakan bagian yang paling primitif dalam kepribadian. ld merupakan
sumber energi utama yang memungkinkan manusia untuk bertahan hidup. Dari
Id inilah nanti ego dan superego berkembang.ld terdiri dari
dorongan-dorongan biologis dasar seperti kebutuhan untuk makan, minum,
buang air besar, menghindari rasa sakit, dan memperoleh kenikmatan
seksual. Freud juga beranggapan bahwa agresivitas merupakan suatu
dorongan biologis, oleh karena itu ada dalam ld.
Semakin
anak berkembang, proses kepribadian bukan merupakan sarana yang
memuaskanuntuk memenuhi kebutuhan dan mengurangi tegangan. Dorongan
untuk mendapat objek kebutuhan yang sebenamya makin kuat. Oleh karena
itu, individu harus secara realistis berhubungan dengan lingkungan. la
harus dapat membedakan objek imajiner dengan objek yang sebenamya dalam
lingkungan. Kebutuhan ini menghasilkan suatu sumber energi psikis baru
yang disebut ego.
Super
ego adalah gambaran intemalisasi nilai dan moral masyarakat yang
diajarkan orang tua dan orang lain pada anak. Pada dasamya super ego
merupakan hati nurani (concience) seseorang. Superego menilai apakah suatu tindakan itu benar atau salah. Super ego mewakili nilai-nilai ideal. Oleh karena itu superego selalu
berorientasi pada kesempumaan. Cita-cita diri- nyapun diarahkan pada
nilai-nilai ideal itu sehingga setiap orang memiliki suatu gambaran
tentang dirinya yang paling ideal (Ego ideal).
TEORI "SOCIAL-LEARNING"
Teori kepribadian yang mendasarkan pada sosial learning menekankan
besarnya pengaruh dari lingkungan atau keadaan-keadaan situasional
terhadap perilaku. Tokohnya Rotter, Dollard, Miller, danBandura. Para
ahli ini berpandangan bahwa perilaku merupakan Hasi linteraksi yang
terus menerus antara variabel-variabel pribadi dan lingkungan.
Lingkungan membentuk pola-pola berperilaku melalui proses belajar;
sedangkan variabel-variabel pribadi mempengaruhi pola-pola dalam
lingkungan . Individu atau suatu pribadi dan situasi saling
mempengaruhi.
Pola
perilaku individu dibentuk berdasarkan suatu proses kondisioning.
Orang-orang disekitar individu membentuk perilakunya dengan ganjaran dan
hukuman. Bila ini terjadi, maka individu membentuk pola bertingkah laku
melalui suatu pengalaman langsung (mendapat hadiah dan hukuman
langsung). Tetapi perilaku juga bisa terbentuk melalui pengalaman tidak
langsung, yaitu melalui pengamatan terhadap perilaku orang lain di
sekitarnya atau disebut modelling.
Para teoritisi social learning beranggapan bahwa perilaku seseorang ditentukan oleh:
(a) ciri-ciri khusus dari situasi yang dihadapi;
(b) penafsiran individu terhadap situasi tersebut; dan
(c) penguatan yang pernah dialami pada tingkah lakunya dalam situasi serupa.
Faktor
(b) mempunyaiartipentingdalamteori ini.Penafsiranindividu
sangatdipengaruhi oleh perkembangan kognitif seseorang serta
pengalaman-pengalaman dimasa lalu dalam situasi yang serupa. Kedua hal
ini dimasukkan dalam variabel-variabel pribadi (person variable).
Para
teoritisi sosial learning mempunyai keyakinan mendalam bahwa organism
adalah suatu subjek yang aktif. Oleh karena itu, ia tidak pernah
membiarkan ligkungan mempengaruhi dirinya begitu saja. Ia juga merubah
lingkungan itu sedemikian rupa sehingga pengaruh lingkunganyang ia
terima merupakan pengalaman yang telah dipengaruhi oleh karya-karyanya.
Para teoritisi menyebut lingkungan seperti itu sebagai self-generated environment. Karena teori social learning sangat
menekankan pada determinan lingkungan atau kondisi-kondisi situasional
dari perilaku, maka kritik yang dilontarkan adalah kepribadian sudah
kehilangan pribadi (person)-nya. Bahkan teori ini member kesan
kuat bahwa kepribadian itu mudah berubah karena sangat ditentukan oleh
sikon yang dihadapi individu. Teori ini memang punya dampak kuat dalam
psikoterapi, yaitu dengan berkembangnya teknik-teknik modifikasi
perilaku, tetapi gagal untuk menjelaskanciri-ciri perilaku yang bersifat
menetap.
TEORI BEHAVIORISTIK
Behaviorisme
merupakan sebuah aliran dalam psikologi yang didirikan oleh J.B.
Watson. Sama halnya dengan psikoanalisis, behaviorisme juga merupakan
aliran yang revolusioner, kuat dan berpengaruh serta memiliki akar
sejarah yang cukup dalam. Selain Watson ada beberapa orang yang
dipandang sebagai tokoh behaviorsime, diantaranya adalah Ivan Pavlov,
E.L. Thorndika, B.F. Skinner, dll. Namun demikian bila orang berbicara
kepribadian atas dasar orientasi behevioristik maka nama yang senantiasa
disebut adalah Skinner mengingat dia adalah tokoh behaviorisme yang
paling produktif dalam mengemukakan gagasan dan penelitian, paling
berpengaruh, serta paling berani dan tegas dalam menjawab tantangan dan
kritik-kritik atas behaviorisme (Koeswara, 2001 : 69).
Paradigma
yang dipakai untuk membangun teori behavioristik adalah bahwa tingkah
laku manusia itu fungsi stimulus, artinya determinan tingkah laku tidak
berada di dalam diri manusia tetapi bearada di lingkungan (Alwisol, 2005
: 7). Pavlov, Skinner, dan Watson dalam berbagai eksperimen mencoba
menunjukkan betapa besarnya pengaruh lingkungan terhadap tingkah laku.
Semua tingkah laku termasuk tingkah laku yang tidak dikehendaki, menurut
mereka, diperoleh melalui belajar dari lingkungan.
TEORI HUMANISTIK
Istilah psikologi humanistik (Humanistic Psychology)
diperkenalkan oleh sekelompok ahli psikologi yang pada awal tahun
1960-an bekerja sama di bawah kepemimpinan Abraham Maslow dalam mencari
alternatif dari dua teori yang sangat berpengaruh atas pemikiran
intelektual dalam psikologi. Kedua teori yang dimaksud adalah
psikoanalisis dan behaviorisme. Maslow menyebut psikologi humanistik
sebagai “kekuatan ketiga” (a third force). Meskipun tokoh-tokoh
psikologi humanistik memiliki pandangan yang berbeda-beda, tetapi mereka
berpijak pada konsepsi fundamental yang sama mengenai manusia, yang
berakar pada salah satu aliran filsafat modern, yaitu eksistensialisme. Manusia, menurut eksistensialisme adalah hal yang mengada-dalam dunia (being-in-the-world),
dan menyadari penuh akan keberadaannya (Koeswara, 2001 : 113).
Eksistensialisme menolak paham yang menempatkan manusia semata-mata
sebagai hasil bawaan ataupun lingkungan. Sebaliknya, para filsuf
eksistensialis percaya bahwa setiap individu memiliki kebebasan untuk
memilih tindakan, menentukan sendiri nasib atau wujud dari
keberadaannya, serta bertanggung jawab atas pilihan dan keberadaannya.
DAFTAR PUSTAKA
Lisa Putriani, 2011. Bk n Psikologi. Dinamika Kelompok. http://bknpsikologi.blogspot.com/2011/01/dinamika-kelompok.html. Diakses pada tanggal 4 September 2012, pukul 15:52 WIB : Padang, Sumatera Barat.
DAFTAR PUSTAKA
Lisa Putriani, 2011. Bk n Psikologi. Dinamika Kelompok. http://bknpsikologi.blogspot.com/2011/01/dinamika-kelompok.html. Diakses pada tanggal 4 September 2012, pukul 15:52 WIB : Padang, Sumatera Barat.


