Showing posts with label Peternakan. Show all posts
Showing posts with label Peternakan. Show all posts
Unknown
Peternakan
0
Pengertian kastrasi
Kastrasi atau lebih populer dan dikenal dengan istilah “pengebirian” adalah
salah satu aspek penting dalam tatalaksana pemeliharaan dan perawatan ternak
potong. Kastrasi adalah suatu tindakan yang sengaja dilakukan untuk
menghilangkan fungsi dari alat reproduksi dengan jalan mematikan sel kelamin
jantan dan betina sehingga ternak bersangkutan tidak mampu menghasilkan
keturunan. Kastrasi dapat dilakukan dengan jalan mengikat, mengoperasi
ataupun memasukan bahan kimia ke dalam organ tubuh tertentu.
Berdasarkan cara melakukan kastrasi secara umum dikenal dua
bentuk kastarasi yaitu kastrasi terbuka – atau tanpa melakukan pembedahan,
biasanya dengan menggunakan karet elastrator atau tang burdizo, (Lihat
Gambar 1a dan 1b) dan kastrasi tertutup yaitu melalui operasi atau
pembedahan.
Kastrasi tertutup biasanya dilakukan terhadap ternak yang memiliki
alat kelamin menggantung dan menjauh dari tubuh misalnya seperti pada ternak
kambing dan sapi. Sedangkan kastrasi terbuka umum dilakukan pada
ternak yang alat kelaminnya menempel atau dekat dengan tubuhnya contohnya pada
ternak babi.
Tujuan kastrasi
Ada
banyak tujuan dari perlakuan kastrasi terhadap ternak peliharaan, tetapi secara
umum tujuan kastrasi adalah sebagai berikut:
- Mempersiapkan ternak potong dengan mutu daging yang lebih bagus
- Meredam atau mengurangi tingkat agresifitas ternak jantan
- Mencegah terjadinya perkawinan ternak yang tidak diinginkan atau ternak yang tidak lolos seleksi sesuai standar produksi yang ditargetkan
- Menerapkan strategi tatalaksana pemeliharaan ternak yang mendukung usaha
Manfaat kastrasi
Sedangkan
manfaat dari pelaksanaan kastrasi terhadap ternak antara lain:
- Mengurangi biaya produksi atau pemborosan biaya yang tidak diinginkan
- Mendapatkan ternak yang bertempramen lebih jinak sehingga memudahkan dalam menghandel ternak tersebut
- Ternak yang jinak lebih cenderung sedikit aktivitas geraknya sehingga energinya bisa dihemat untuk pembentukan daging.
Kastrasi terbuka atau melalui pembedahan
Ternak
yang akan dikastrasi adalah ternak yang tidak akan dijadikan bibit, oleh karena
itu waktu terbaik melakukan kastrasi yaitu setelah program seleksi selesai
dilaksanakan sehingga ternak yang tidak mencapai standar seleksi dikastrasi
untuk menghasilkan daging. Umumnya umur ternak yang akan dikastrasi
haruslah yang berumur muda karena mengkastrasi ternak tua membawa resiko yang
lebih berat dan akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan ternak
selanjutnya yang dipersiapkan sebagai ternak potong. Pada ternak babi
umur kastrasi berkisar antara 4 – 5 minggu (ternak masih menyusu) dan pada
ternak sapi sebaiknya di bawah umur 3 bulan, karena pada ternak sapi yang
berumur 3 bulan kastrasi harus melalui proses anastesi.
Secara
sederhana kastrasi terbuka atau yang melalui proses operasi disajikan dalam
gambar berikut:
1.
Bersihkan daerah yang akan dioperasi dengan desinfektan. Kemudian bagian
yang akan dibedah dioles dengan yodium tincture
2.
Oprasi bisa dilakukan dengan peralatan untuk memotong dan harus tajam (pisau,
silet atau alat pemotong lainnya) dan harus dalam keadaan steril untuk mencegah
hal-hal yang tidak diinginkan misalnya terjadinya infeksi terhadap luka
yang dihasilkan.
3. Buatlah sayatan pada kulit scrotum dan kantong testes
untuk memudahkan proses pengeluaran testes dari kantongnya
4.
Tekan dengan hati-hati dan keluarkan testes dari kantongnya. Kelenjar
yang menggantung testes harus diikat terlebih dahulu untuk mencegah pendarahan
yang berlebihan.
5.
Kelenjar penggantung testes dipotong tepat di bawah bagian yang diikat.
6.
Melalui bukaan pada kulit scrotum yang sudah ada, buatlah sayatan pada kantong
testes untuk mengeluarkan testes ke dua
7.
Testes kedua dikeluarkan melalui sayatan pada kulit scrotum, dan proses
pengambilannya sama dengan apa yang sudah dilakukan ada testes pertama.
8.
Pengambilan testes kedua selesai dilakukan, kulit scrotum kembali dijahit,
diobati dengan ampivet powder untuk mepercepat pengeringan luka, penyembuhan
dan pencegahan infeksi.
Catatan penting untuk diperhatikan
Dalam
kondisi atau suasana di daerah pedesaan, pelaksanaan kastrasi terkadang tidak
mengikuti prosedur atau sejalan dengan standar operasional kesehatan yang
diinginkan. Misalnya, kalau tidak tersedia alat potong atau alat bedah,
maka masyarakat menggunakan bambu yang diruncingkan untuk memudahkan peternak
melakukan pembedahan atau pemotongan. Hal lain sering dilakukan, yaitu
dalam kondisi sederhana, selesai proses pembedahan, jika tidak tersedia yodium
atau alcohol, maka abu yang berasal dari perapian atau tungku di dapur
digunakan untuk mengobati atau mengeringkan luka pada bagian yang dibedah
sekaligus mempercepat proses penyembuhan dan pencegahan infeksi. Yang
perlu diperhatikan yaitu dampaknya terhadap ternak yang dikastrasi. Oleh
karenanya sepanjang bisa dilakukan secara sederhana, aspek kebersihan peralatan
dan kondisi kesehatan ternak menjadi hal utama yang harus diperhatikan.
Unknown
Peternakan
0
Kandang
serta peralatan yang ada di dalamnya merupakan sarana pokok untuk
terselenggarakannya pemeliharaan ayam secara intensif, berdaya guna dan
berhasil guna. Ayam akan terus menerus berada di dalam kandang, oleh
karena itu kandang harus dirancang dan ditata agar menyenangkan dan
memberikan kebutuhan hidup yang sesuai bagi ayam-ayam yang berada di
dalamnya. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam hal ini adalah
pemilihan tempat atau lokasi untuk mendirikan kandang serta konstruksi
atau bentuk kandang itu sendiri. Berdasarkan konstruksi kandang, kandang
dapat dibedakan menjadi:
Kandang batere. Kandang
ini menggunakan sistem alas berlubang atau kawat. Kandang batere adalah
sangkar segi empat yang disusun secara berderet memanjang dan bertingkat
dua atau lebih (North, 1994). Kandang batere berbentuk kotak yang
bersambung satu dengan yang lain terbuat dari kayu, bambu atau kawat.
Masing-masing kotak berukuran lebar 30 sampai 35 cm, panjang 45 cm dan
tinggi 60 cm. Lantai kandang baterai letaknya agak miring ke salah satu
sisi sekitar 6-7 cm. Ada beberapa bentuk kandang baterey antara lain;
Single deck (kandang batere 1 tingkat), Double deck ( kandang batere 2
tingkat), Triple deck (kandang batere 3 tingkat), Four deck dan Five
deck hampir sama dengan Triple deck tetapi menggunakan 4 dan 5 tingkat.
(North, 1994).
Sistem kandang baterai bertujuan
agar ayam tidak terlalu banyak mengeluarkan tenaga, dengan demikian
energi dimanfaatkan untuk metabolisme tubuh, khususnya untuk ayam
memproduksi telur (Anggorodi, 1985). Kebaikan kandang sistem batere
adalah kandang lantai kandang yang selalu bersih karena kotorannya jatuh
ke tempat penampungan, peredaran udara lebih lancar, dapat menampung
ayam lebih banyak, pengontrolan penyakit lebih mudah dan dapat
menimbulkan penyakit Coccidiosis, serta konversi pakan lebih baik.
(North, 1984; Akpobame dan Fanguy, 1992). Penggunaan kandang sistem
batere memerlukan biaya yang lebih tinggi dibandingkan dengan sistem
litter, memerlukan penanganan ekskreta secara serius serta dapat
menyebabkan lepuh dada dan cacat kaki.
Kandang postal.
Kandang dengan tipe litter adalah suatu tipe pemeliharaan unggas dengan
lantai kandangnya ditutup oleh bahan penutup lantai seperti sekam padi,
serutan gergaji, tongkol jagung, jerami padi yang dipotong-potong, serta
dapat digunakan kapur mati yang penggunaannya dicampurkan dengan bahan
litter (Sudjarwo dan Indarto, 1989). Litter yang baik harus dapat
memenuhi beberapa kriteria yakni : memiliki daya serap yang tinggi,
lembut sehingga tidak menyebabkan kerusakan dada, mempertahankan
kehangatan, menyerap panas, dan menyeragamkan temperatur dalam kandang
(Sudjarwo, 1989). Bahan litter yang efektif adalah bersifat daya serap
air (absorben) tinggi, bebas debu, sukar untuk dimakan ayam, tidak
beracun, murah, mudah diangkut dan diganti, serta tersedia melimpah.
Sainsburry (1995) menyatakan bahwa litter harus menimbulkan kenyamanan
bagi unggas dan terbebas dari parasit dan bakteri yang dapat menyebabkan
infeksi pada unggas. Pengawasan terhadap kualitas litter sangat penting
untuk kesuksesan manajemen perkandangan unggas. Kesalahan manajemen
tempat minum atau karena ventilasi kandang yang buruk adalah penyebab
utama meningkatnya kelembaban litter yang pada akhirnya adalah
terjadinya akumulasi amonia (Daghir, 1995).
Kandang litter juga memiliki
kelebihan yaitu: pertama dapat memberikan hasil yang memuaskan, baik
kuantitas (bobot badan) maupun kualitas daging, kedua dapat
menghindarkan ternak ayam menderita lepuh dada atau pembengkakan tulang
dada (Breast Blister), memudahkan didalam pengelolaan yakni seperti
pembersihan dan pembuangan kotoran, serta dapat menghemat tenaga kerja.
Kandang panggung.
Akpobome dan Funguy (1992) menyatakan bahwa broiler yang dipelihara pada
kandang panggung memiliki bobot badan yang lebih rendah tetapi konversi
pakan yang lebih baik dibandingkan broiler yang dipelihara di atas
lantai sekam.
Sinurat et al., (1995)
menyatakan bahwa terjadi penurunan pertambahan berat badan ayam broiler
yang dipelihara pada lantai kawat setelah berumur 5 - 6 minggu dibanding
broiler yang dipelihara pada lantai sekam, Hal ini terjadi karena
semakin tinggi bobot badan ayam gesekan antara tubuh dengan kawat
semakin tinggi yang mungkin menyebabkan stress bagi ayam yang dipelihara
di atas lantai kawat.
Kandang panggung berlantai kawat
menyebabkan lebih banyak kerusakan kaki dan kelainan bentuk kaki
dibanding lantai litter. Masalah pada kaki menyebabkan turunnya produksi
pada ayam petelur (Anderson, 1994). Kejadian lepuh dada broiler pada
kandang panggung dua kali lebih banyak dibanding pada lantai litter
(Akpobome dan Funguy, 1992).
Kebaikan dari kandang panggung
yaitu memiliki ventilasi yang sangat baik bagi ayam di dalamnya, sebab
udara bertiup melalui seluruh bagian tubuh ayam. Keuntungan lain dari
penggunaan kandang panggung adalah kemudahan dalam mekanisme kandang,
tidak diperlukan biaya untuk pembelian litter dan mengurangi kontak ayam
dengan feses (Hypes et al, 1994).
DAFTAR PUSTAKA
Akpobome, G. D and R. C. Funguy.
1992. Evaluation of Cage Floor System of Production of Comercial
Broiler. Poultry Science. Vol. 71: 274.
Anggorodi, R. 1985. Kemajuan Mutakhir dalam Makanan Ternak Unggas. UI Press. Yogyakarta.
Daghir, N. J. 1995. Poultry
Production in Hot Climate. Faculty of Agriculture Sciences United Arab.
Emirates University. Al-Ain UEA. Cab. International.
North, M. O. 1984. Comercial Chicken Production Manual. 3rd Ed. Avi Publ. Co. Inc. West Port Connecticut.
Sainsburry, D. 1995. Poultry
Health and Management. Chickens Turkeys, Ducks, Geese, Quile. 3rd ed.
University of Cambridge. United Kingdom.
Sinurat, A. P., D. Zainuddin dan
R. Dharsono. 1995. Pengujian Penampilan Biologi Ayam Pedaging Strain
Hybro pada Lantai Litter dan Kawat. Ilmu dan Peternakan.
Eki. Maura,
2011.http://ketekdekil.blogspot.com/2011/02/vaksinasi-dan-pencegahan-penyakit-pada.html.
Diakses Pada Tanggal 20/07/2013, Sumedan,
Jawa Barat,
Indonesia.
Unknown
Peternakan
0
Sistematika
Sistematika sapi adalah sebagai berikut :
Phylum : Chordata
Sub Phylum : Vertebrata
Class : Mamalia
Sub Class : Plasentalia
Ordo : Ungulata
Sub Ordo : Arhoclactyla
Rumpun : Selonodonta
Familia : Bavidae
Genus : Bos
Sub Genus :Taurina, Bisantia, Bibavina, Bubolina, Lepsoburina
Spesies : Bos Indicus, Bos Taurus, Bos Sandaicus.
(Sastroamidjojo, 1983).
Asal-usul
Dari
sejarahnya, semua bangsa sapi yang dikenal di dunia berasal dari
Homacodantidae yang dijumpai pada zaman palaeocene. Adapun jenis
primitifnya ditemukan pada zaman pliocene di India, Asia. Perkembangan
dari jenis primitif itulah yang sampai sekarang menghasilkan tiga
kelompok nenek moyang sappi hasil penjinakkan yang kita kenal
(Murtidjo,1990).
Dari
beberapa literatur, tidak diketahui secara pasti kapan awal penjinakan
sapi dilakukan oleh manusia. Namun di pusat perkembangan kebudayaan
seperti di Mesopotamia, India, Bangkok dan Eropa dikenal pada tahun 600
SM. Sedangkan dimesir kuno, konon sudah dikenal pemeliharaan sapi pada
tahun 8000 SM (Murtidjo, 1990).
Bangsa-bangsa
Adapun
sapi yang dihasilkan dari jenis primitif, diklasifikasikan menjadi 3
kelompok besar yang memiliki andil warna genetik sapi, yakni :
Bos Sondaicus atau Bos Banteng.
Sampai sekarang masih ditemukan liar di daerah margasatwa yang
dilindungi di pulau Jawa, seperti Pangandaran dan Ujung Kulon dan
merupakan sumber asli Indonesia (Sastroamidjojo, 1981).
Bos Indicus atau Sapi Zebu. Sampai
sekarang mengalami perkembangan di India, Asia. Yang terkenal di
Indonesia adalah sapi brahman dan sapi ongole. Bos Indicus merupakan
sapi berpunuk, sapi-sapi dari Bos Indicus menurunkan bangsa-bangsa sapi
di daerah tropis (Sastroamidjojo, 1992).
Bos Taurus atau sapi Eropa. Sampai
sekarang mengalami perkembangan di Eropa. Bos Taurus merupakan bangsa
sapi yang menjadi nenek moyang dari sapi potong maupun sapi perah
(Murtidjo, 1990).
Ketiga
kelompok nenek moyang sapi tersebut, baik secara alamiah maupun karena
peran serta manusia melalui hasil perbandingan atau persilangan berhasil
mengalami perkembangan yang menurunkan bangsa-bangsa sapi modern, baik
tipe potong-perah, tipe potong-kerja, tipe perah maupun tipe potong
murni (Bambang,1990).
Bangsa-bangsa Sapi
Menurut Sarwono (2001) komoditas sapi yang ada di Indonesia terdiri atas:
Sapi asli Indonesia
Sapi Bali.
Asal usul sapi bali adalah banteng (Bos Sondaicus) yang telah mengalami
penjinakan atau domestikasi selama bertahun-tahun. Proses domestikasi
yang cukup lama diduga sebagai penyebab sapi bali lebih kecil
dibandingkan dengan banteng. Sapi bali jantan dan betina dilahirkan
dengan warna merah bata dengan garis hitam disepanjang punggungyang
disebut garis belut. Setelah dewasa, warna sapi jantan berubah menjadi
kehitam-hitaman, sedangkan warna sapi betina relatif tetap. Sapi bali
tidak berpunuk. Umumnya, keempat kaki dan bagian pantatnya berwarna
putih (Abidin, 2002).
Sapi Madura.
Merupakan sapi keturunan perkawinan silang antara Bos indicus dan Bos
sondaicus. Karakteristik Sapi Madura adalah punuk yang kecil diwarisi
dari Bos indicus dan warna kulit coklat atau merah bata diwarisi dari
Bos sondaicus, pada kepalanya terdapat tanduk melengkung ke depan dengan
melingkar bulat sabit (Murtidjo, 1992)
Sapi impor
Sapi Ongole.
Merupakan sapi keturunan bos indicus yang berhasil dijinakkan di India.
Sapi Ongole masuk ke Indonesia abad ke-19 dan dikembangkan cukup baik
di pulau Sumba, sehingga lebih dikenal dengan Sapi Sumba Ongole.
Karakteristik Sapi Ongole adalah punuk besar dan kulit longgar dangan
banyak lipatan dibagian bawah leher dan pantat, telinga panjanng serta
menggantung, tempramen tenang dengan mata besar, tanduk pendek dan
hampir tidak terlihat, warna bulu umumnya putih kusam atau agak
kehitam-hitaman dan warna kulit kuning (Murtidjo, 1992).
Sapi Brahman. Merupakan
sapi keturunan bos indicus yang beerhasil dijinakkan di India, Tetapi
mengalami perkembangan pesat di Amerika Serikat. Sapi
ini adalah hasil campuran darah 3 bangsa sapi madura yaitu bangsa
bir,buzerat, dan nellose. Sapi ini bertanduk dan warnanya bervariasi
mulai dari abu-abu muda, totol-totol, sampai hitam, terdapat punuk pada
punggung di belakang kepala, yang merupakan kelanjutan dari otot-otot
pundak, dengan telinga yang berpendulous panjang, serta adanya pendulous
yang longgar sepanjang leher. Sapi Brahman memiliki sifat yang khas
yaitu ketahanannya terhadap kondisi tatalaksana yang sangat minimal,
toleransi terhadap panas, kemampuannya untuk mengasuh anak, daya tahan
terhadap kondisi yang jelek seperti penyakit dan parasit. Berat badan
betina dewasa mencapai 585 kg sedangkan jantan dewasa mencapai 900 kg
atau bahkan lebih (Blakely and Bade, 1992).
Sapi Hereford
memiliki tanduk, dengan arah tumbuh kedalam dan kebawah, sifat-sifat
yang menjadi kelebihan sapi ini adalah ketahanan, kemampuan merumput,
daya adaptasi, efisiensi reproduksi, disposisi dan tempramen yang baik,
tulang-tulang yang kuat serta perdagingan yang tebal. Warna bulunya
termasuk yang paling aneh diantara bangsa-bangsa sapi, yaitu kepala
putih dan badan yang berwarna merah (Blakely and David, 1992).
Sapi Polled Hereford. Memiliki ciri-ciri sama dengan Hereford, namun tidak bertanduk (AAK, 1990).
Sapi Aberden Angus.
Memiliki ciri-ciri warna hitam, warna putih pada bagian pusar, tidak
bertanduk, badan lebar, padat, leher dan kaki pendek (AAK, 1990).
Sapi Red Angus. Memiliki ciri-ciri warna bulu merah gelap, memiliki faktor resesif. Karakteristik sama dengan Aberdeen Angus.
Sapi Galloway.
Memiliki ciri warna bulu hitam, tidak bertanduk, kaki pendek dan
berbentuk persegi, memiliki daya tahan tinggi terhadap udara dingin
(AAK, 1990).
Sapi Charolais. Memiliki ciri warna bulu kuning susu. jantan dan betina bertanduk, kulit longgar, punggung melekung kebawah (AAK, 1990).
Sapi Shorthorn. Berasal dari pantai timur laut Inggris, sekitar sungai Tees antara Durham dan Eork. Termasuk sapi dual purpose yaitu tipe pedaging dan tipe perah. Ada yang mempunyai punuk disebut pulled shorthorn. Berat pedaging jatan dapat mencapai 1000 kg dan betina 750 kg (Pane 1986) .memiliki ciri-ciri warna rambut putih dan merah), dengan otot kasar dan tebal (AAK, 1990).
Sapi persilangan
Sapi Santa Gertrudis.
Merupakan hasil persilangan antara sapi Brahman dan sapi Shorthorn
dengan 3/8 darah Brahman dan 5/8 darah Shorthron. Warna merah tua, tubuh
lebih rata dan padat dari pada Brahman, bertanduk dan bergelambir,
telinga rendah dan tebal. Berat sapi jantan dewasa 800 kg dan betina 780
kg (Sastroamidjojo, 1983).
Sapi Brangus.
Merupakan hasil persilangan antara sapi Brahman dan Aberden Angus,
dengan memiliki 5/8 darah Aberden angus dan 3/8 darah sapi Brahman.
Warna hitam kelam dan ada juga merah, bertanduk, tubuh lebih padat dari
brahman, tahan panas dan gigitan serangga, adaptasi pakan baik, produksi
daging baik (Blakely dan Bade,1985).
Sapi Charbray. merupakan hasil crossing antara Chrolais dengan Brahman. Mengandung 1/8 sampai ¼ darah Brahman (AAK, 1990).
Sapi Braford.
Merupakan hasil crossing antara Brahman dan Hereford (AAK, 1990).
Mempunyai sifat yang mirip dengan hereford, warna merah, muka putih dan
merah tua, pertumbuhan baik, tahan panas, caplak dan penyakit, daya
tahan baik terhadap udara panas dan udara lembab, (Blakely dan Bade,
1985)
Sapi Beefmaster.
Merupakan hasil crossing antara Brahman , Shorthorn, dan Hereford.
Mengandung ¼ darah Hereford dan ½ darah America Brahman (AAK, 1990).
Persilangan antara sapi lokal dengan sapi unggul dilakukan untuk memperbaiki kualitas genetik dan
penampilan fisik dari sapi lokal. Salah satu contoh sapi hasil
persilangan antara sapi lokal dengan sapi unggul adalah sapi Peranakan
Ongole yang merupakan persilangan antara sapi lokal dengan sapi Ongole
murni.
DAFTAR PUSTAKA
AAK. 1998. Petunjuk Beternak Kelinci. Yayasan Kanisius. Yogyakarta.
Abidin, Zainal. 2002. Penggemukan Sapi Potong. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Blakely, J and David.H.Bade. 1992. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University Press. Yogjakarta.
Murtidjo, B.A. 1990. Beternak Sapi Potong. Kanisius Yogyakarta.
Sastroamidjojo .S.M. 1983. Ternak Potong dan Ternak Kerja. CV. Yasaguna. Jakarta.
Eki. Maura,
2011.http://ketekdekil.blogspot.com/2011/02/vaksinasi-dan-pencegahan-penyakit-pada.html.
Diakses Pada Tanggal 20/07/2013, Sumedan,
Jawa Barat,
Indonesia.
Unknown
Peternakan
0
Sistematika
Menurut Blakely (1991), sistematika ternak Domba yaitu :Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Class : Mammalia
Ordo : Bovidae
Genus : Ovis
Spesies : Ovis canadenis
Ovis aries
Asal-usul dan Bangsa
Domba
sudah lama diternakkan orang, hanya sedikit yang dapat kita ketahui
asal-usul dilakukannya seleksi dan domestikasi domba. Domba dianggap
dari keturunan jenis liar seperti meufion, yaitu sejenis domba yang
berekor pendek. Varietas-varietas yang terdapat di Eropa dan Asia adalah
merupakan stok dasar untuk menghasilkan woll, daging, kulit serta susu
(Blakely and David, 1991).
Berkembangan
kegiatan perajutan dan permintaan sebagai bagian dari perkembangan
kehidupan manusia, muncullah jenis dan bangsa-bangsa domba yang baru
sebagai penghasil woll yang berkualitas, tentu saja dengan mengorbankan
beberapa sifat yang lain. Domba Merino dari Spanyol adalah domba yang
dikembangkan menjadi salah satu bangsa penghasil woll yang bagus
(Blakely and David, 1991).
Domba
merupakan ternak yang pertama kali di domestikan, dimulai dari daerah
kaspia, Iran, India, Asia Barat, Asia Tenggara, dan Eropa. Salah satu
jenis domba yang di Indonesia adalah domba ekor tipis (Salamena, 2003).
Domba asli Indonesia
Mempunyai badan yang kecil, lambat dewasa, warna bulu dan tanda lain tidak seragam, dan dagingnya sedikit sekali
Domba Ekor Gemuk.
Berasal dari Indonesia bagian timur (Madura, Sulawesi dan Lombok).
Jantan bertanduk sedangkan betina tidak, ekornya panjang, lebar dan
mampu menimbun lemak yang banyak sehingga ekor menjadi sangat besar,
tetapi diujung ekor tipis, karena disini tidak terdapat penimbunan lemak
(Sastroamidjojo, 1983).
Domba import
Domba Merino.
Berasal dari Spanyol, bulu tebal, jantan bertanduk besar serta
melingkar-lingkar. Merupakan domba penghasil wool yang sangat baik.
Mempunyai 3 tipe yaitu : tipe A bulunya sangat keriting, tipe B bulunya
tidak terlalu keriting, tipe C bulunya tidak keriting yang sering
disebut Delaire Merino (Blakely dan Bade, 1992).
Domba Rombouillet. memiliki ciri badan besar, dalam dan padat, tulang kuat, jantan bertanduk sedangkan yang betina tidak. Digunakan sebagai penghasil daging dan wol yang cukup baik.(Blakely and Bade, 1992)
Domba Hampshire.
Berasal dari Inggris, merupakan tipe pedaging yang mempunyai ciri
badan padat dan dalam, leher agak panjang, kepala besar, telinga
besar, warna bulu putih, bagian kaki bawah, muka dan bagian telinga
sebelah dalam serta keliling mata berwarna coklat kehitaman, tidak
bertanduk, telinga besar dan letaknya horisontal, badan besar, tegap,
hidup baik dipadang rumput dan mudah beranak (Srigandono, 1991).
Domba Dorsett.
Berasal dari Inggris, terkenal sebagi produsen wol dengan ciri-ciri
kulit empat persegi panjang, leher sedang dan dalam, tanduk istimewa,
tanduk jantan subur dan mempunyai lingkaran. Jantan maupun betina berat badan bisa mencapai lebih dari 100 kg (Sastroamidjojo, 1983).
Domba Licoln. Merupakan domba tipe pedaging yang berbulu lebat, tidak bertanduk sering digunakan untuk perkawinan silang (Srigandono, 1991).
Domba persilangan
Domba Garut.
Merupakan hasil persilangan antara domba asli dan domba marini dan
domba ekor gemuk. Domba pejantan bertanduk besar melengkung ke belakang
seperti spiral tetapi tidak begitu panjang. Pangkal tanduk kanan dan
kiri hampir bersatu, tulang tengkorak lebar, sering digunakan untuk
aduan, domba betina tidak bertanduk (Huitema, 1986).
Domba Kolombia. Merupakan persilangan antara domba licon dengan domba Rambonillet. Warna putih, muka lebar, tidak bertanduk, mudah beradaptasi (Srigondono, 1991).
DAFTAR PUSTAKA
Blakely, James dan David H. Bade. 1991. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Sastroamidjojo .S.M. 1983. Ternak Potong dan Ternak Kerja. CV. Yasaguna. Jakarta.
Eki. Maura,
2011.http://ketekdekil.blogspot.com/2011/02/vaksinasi-dan-pencegahan-penyakit-pada.html.
Diakses Pada Tanggal 20/07/2013, Sumedan,
Jawa Barat,
Indonesia.






















