Multimedia
Showing posts with label Peternakan. Show all posts
Showing posts with label Peternakan. Show all posts
Unknown 0

  Gambar 1. Brooder Dalam Kondisi 100% Siap, Pada Saat DOC (Day Old Chick) Tiba


      
 Gambar 2. Penyebaran Ayam Dalam Brooder



Unknown 0

Pengertian kastrasi
Kastrasi atau lebih populer dan dikenal dengan istilah “pengebirian” adalah salah satu aspek penting dalam tatalaksana pemeliharaan dan perawatan ternak potong.  Kastrasi adalah suatu tindakan yang sengaja dilakukan untuk menghilangkan fungsi dari alat reproduksi dengan jalan mematikan sel kelamin jantan dan betina sehingga ternak bersangkutan tidak mampu menghasilkan keturunan.  Kastrasi dapat dilakukan dengan jalan mengikat, mengoperasi ataupun memasukan bahan kimia ke dalam organ tubuh tertentu.
Berdasarkan cara melakukan kastrasi secara umum dikenal dua bentuk kastarasi yaitu kastrasi terbuka – atau tanpa melakukan pembedahan, biasanya dengan menggunakan karet elastrator atau tang burdizo, (Lihat Gambar 1a dan 1b) dan kastrasi tertutup yaitu melalui operasi atau pembedahan. 
 Kastrasi tertutup biasanya dilakukan terhadap ternak yang memiliki alat kelamin menggantung dan menjauh dari tubuh misalnya seperti pada ternak kambing dan sapi.   Sedangkan kastrasi terbuka umum dilakukan pada ternak yang alat kelaminnya menempel atau dekat dengan tubuhnya contohnya pada ternak babi.
Tujuan kastrasi
Ada banyak tujuan dari perlakuan kastrasi terhadap ternak peliharaan, tetapi secara umum tujuan kastrasi adalah sebagai berikut:
  1. Mempersiapkan ternak potong dengan mutu daging yang lebih bagus
  2. Meredam atau mengurangi tingkat agresifitas ternak jantan
  3. Mencegah terjadinya perkawinan ternak yang tidak diinginkan atau ternak yang tidak lolos seleksi sesuai standar produksi yang ditargetkan
  4. Menerapkan strategi tatalaksana pemeliharaan ternak yang mendukung usaha
Manfaat kastrasi
Sedangkan manfaat dari pelaksanaan kastrasi terhadap ternak antara lain:
  • Mengurangi biaya produksi atau pemborosan biaya yang tidak diinginkan
  • Mendapatkan ternak yang bertempramen lebih jinak sehingga memudahkan dalam menghandel ternak tersebut
  • Ternak yang jinak lebih cenderung sedikit aktivitas geraknya sehingga energinya bisa dihemat untuk pembentukan daging.
Kastrasi terbuka atau melalui pembedahan
Ternak yang akan dikastrasi adalah ternak yang tidak akan dijadikan bibit, oleh karena itu waktu terbaik melakukan kastrasi yaitu setelah program seleksi selesai dilaksanakan sehingga ternak yang tidak mencapai standar seleksi dikastrasi untuk menghasilkan daging.  Umumnya umur ternak yang akan dikastrasi haruslah yang berumur muda karena mengkastrasi ternak tua membawa resiko yang lebih berat dan akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan ternak selanjutnya yang dipersiapkan sebagai ternak potong.  Pada ternak babi umur kastrasi berkisar antara 4 – 5 minggu (ternak masih menyusu) dan pada ternak sapi sebaiknya di bawah umur 3 bulan, karena pada ternak sapi yang berumur 3 bulan kastrasi harus melalui proses anastesi.
Secara sederhana kastrasi terbuka atau yang melalui proses operasi disajikan dalam gambar berikut: 
1. Bersihkan daerah yang akan dioperasi dengan desinfektan.  Kemudian bagian yang akan dibedah dioles dengan yodium tincture
2. Oprasi bisa dilakukan dengan peralatan untuk memotong dan harus tajam (pisau, silet atau alat pemotong lainnya) dan harus dalam keadaan steril untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan misalnya terjadinya infeksi  terhadap luka yang dihasilkan.
3. Buatlah sayatan pada kulit scrotum dan kantong testes untuk memudahkan proses pengeluaran testes dari kantongnya
4. Tekan dengan hati-hati dan keluarkan testes dari kantongnya.  Kelenjar yang menggantung testes harus diikat terlebih dahulu untuk mencegah pendarahan yang berlebihan. 


5. Kelenjar penggantung testes dipotong tepat di bawah bagian yang diikat.

6. Melalui bukaan pada kulit scrotum yang sudah ada, buatlah sayatan pada kantong testes untuk mengeluarkan testes ke dua
7. Testes kedua dikeluarkan melalui sayatan pada kulit scrotum, dan proses pengambilannya sama dengan apa yang sudah dilakukan ada testes pertama.
8. Pengambilan testes kedua selesai dilakukan, kulit scrotum kembali dijahit, diobati dengan ampivet powder untuk mepercepat pengeringan luka, penyembuhan dan pencegahan infeksi.
Catatan penting untuk diperhatikan
Dalam kondisi atau suasana di daerah pedesaan, pelaksanaan kastrasi terkadang tidak mengikuti prosedur atau sejalan dengan standar operasional kesehatan yang diinginkan.  Misalnya, kalau tidak tersedia alat potong atau alat bedah, maka masyarakat menggunakan bambu yang diruncingkan untuk memudahkan peternak melakukan pembedahan atau pemotongan.  Hal lain sering dilakukan, yaitu dalam kondisi sederhana, selesai proses pembedahan, jika tidak tersedia yodium atau alcohol, maka abu yang berasal dari perapian atau tungku di dapur digunakan untuk mengobati atau mengeringkan luka pada bagian yang dibedah sekaligus mempercepat proses penyembuhan dan pencegahan infeksi.  Yang perlu diperhatikan yaitu dampaknya terhadap ternak yang dikastrasi.  Oleh karenanya sepanjang bisa dilakukan secara sederhana, aspek kebersihan peralatan dan kondisi kesehatan ternak menjadi hal utama yang harus diperhatikan.

Rujukan :Learning & Working Together

Unknown 0

Unknown 0


Kandang serta peralatan yang ada di dalamnya merupakan sarana pokok untuk terselenggarakannya pemeliharaan ayam secara intensif, berdaya guna dan berhasil guna. Ayam akan terus menerus berada di dalam kandang, oleh karena itu kandang harus dirancang dan ditata agar menyenangkan dan memberikan kebutuhan hidup yang sesuai bagi ayam-ayam yang berada di dalamnya. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam hal ini adalah pemilihan tempat atau lokasi untuk mendirikan kandang serta konstruksi atau bentuk kandang itu sendiri. Berdasarkan konstruksi kandang, kandang dapat dibedakan menjadi:

Kandang batere. Kandang ini menggunakan sistem alas berlubang atau kawat. Kandang batere adalah sangkar segi empat yang disusun secara berderet memanjang dan bertingkat dua atau lebih (North, 1994). Kandang batere berbentuk kotak yang bersambung satu dengan yang lain terbuat dari kayu, bambu atau kawat. Masing-masing kotak berukuran lebar 30 sampai 35 cm, panjang 45 cm dan tinggi 60 cm. Lantai kandang baterai letaknya agak miring ke salah satu sisi sekitar 6-7 cm. Ada beberapa bentuk kandang baterey antara lain; Single deck (kandang batere 1 tingkat), Double deck ( kandang batere 2 tingkat), Triple deck (kandang batere 3 tingkat), Four deck dan Five deck hampir sama dengan Triple deck tetapi menggunakan 4 dan 5 tingkat. (North, 1994).

Sistem kandang baterai bertujuan agar ayam tidak terlalu banyak mengeluarkan tenaga, dengan demikian energi dimanfaatkan untuk metabolisme tubuh, khususnya untuk ayam memproduksi telur (Anggorodi, 1985). Kebaikan kandang sistem batere adalah kandang lantai kandang yang selalu bersih karena kotorannya jatuh ke tempat penampungan, peredaran udara lebih lancar, dapat menampung ayam lebih banyak, pengontrolan penyakit lebih mudah dan dapat menimbulkan penyakit Coccidiosis, serta konversi pakan lebih baik. (North, 1984; Akpobame dan Fanguy, 1992). Penggunaan kandang sistem batere memerlukan biaya yang lebih tinggi dibandingkan dengan sistem litter, memerlukan penanganan ekskreta secara serius serta dapat menyebabkan lepuh dada dan cacat kaki.

Kandang postal. Kandang dengan tipe litter adalah suatu tipe pemeliharaan unggas dengan lantai kandangnya ditutup oleh bahan penutup lantai seperti sekam padi, serutan gergaji, tongkol jagung, jerami padi yang dipotong-potong, serta dapat digunakan kapur mati yang penggunaannya dicampurkan dengan bahan litter (Sudjarwo dan Indarto, 1989). Litter yang baik harus dapat memenuhi beberapa kriteria yakni : memiliki daya serap yang tinggi, lembut sehingga tidak menyebabkan kerusakan dada, mempertahankan kehangatan, menyerap panas, dan menyeragamkan temperatur dalam kandang (Sudjarwo, 1989). Bahan litter yang efektif adalah bersifat daya serap air (absorben) tinggi, bebas debu, sukar untuk dimakan ayam, tidak beracun, murah, mudah diangkut dan diganti, serta tersedia melimpah. Sainsburry (1995) menyatakan bahwa litter harus menimbulkan kenyamanan bagi unggas dan terbebas dari parasit dan bakteri yang dapat menyebabkan infeksi pada unggas. Pengawasan terhadap kualitas litter sangat penting untuk kesuksesan manajemen perkandangan unggas. Kesalahan manajemen tempat minum atau karena ventilasi kandang yang buruk adalah penyebab utama meningkatnya kelembaban litter yang pada akhirnya adalah terjadinya akumulasi amonia (Daghir, 1995).

Kandang litter juga memiliki kelebihan yaitu: pertama dapat memberikan hasil yang memuaskan, baik kuantitas (bobot badan) maupun kualitas daging, kedua dapat menghindarkan ternak ayam menderita lepuh dada atau pembengkakan tulang dada (Breast Blister), memudahkan didalam pengelolaan yakni seperti pembersihan dan pembuangan kotoran, serta dapat menghemat tenaga kerja.

Kandang panggung. Akpobome dan Funguy (1992) menyatakan bahwa broiler yang dipelihara pada kandang panggung memiliki bobot badan yang lebih rendah tetapi konversi pakan yang lebih baik dibandingkan broiler yang dipelihara di atas lantai sekam.

Sinurat et al., (1995) menyatakan bahwa terjadi penurunan pertambahan berat badan ayam broiler yang dipelihara pada lantai kawat setelah berumur 5 - 6 minggu dibanding broiler yang dipelihara pada lantai sekam, Hal ini terjadi karena semakin tinggi bobot badan ayam gesekan antara tubuh dengan kawat semakin tinggi yang mungkin menyebabkan stress bagi ayam yang dipelihara di atas lantai kawat.

Kandang panggung berlantai kawat menyebabkan lebih banyak kerusakan kaki dan kelainan bentuk kaki dibanding lantai litter. Masalah pada kaki menyebabkan turunnya produksi pada ayam petelur (Anderson, 1994). Kejadian lepuh dada broiler pada kandang panggung dua kali lebih banyak dibanding pada lantai litter (Akpobome dan Funguy, 1992).

Kebaikan dari kandang panggung yaitu memiliki ventilasi yang sangat baik bagi ayam di dalamnya, sebab udara bertiup melalui seluruh bagian tubuh ayam. Keuntungan lain dari penggunaan kandang panggung adalah kemudahan dalam mekanisme kandang, tidak diperlukan biaya untuk pembelian litter dan mengurangi kontak ayam dengan feses (Hypes et al, 1994).

DAFTAR PUSTAKA

Akpobome, G. D and R. C. Funguy. 1992. Evaluation of Cage Floor System of Production of Comercial Broiler. Poultry Science. Vol. 71: 274.

Anggorodi, R. 1985. Kemajuan Mutakhir dalam Makanan Ternak Unggas. UI Press. Yogyakarta.

Daghir, N. J. 1995. Poultry Production in Hot Climate. Faculty of Agriculture Sciences United Arab. Emirates University. Al-Ain UEA. Cab. International.

North, M. O. 1984. Comercial Chicken Production Manual. 3rd Ed. Avi Publ. Co. Inc. West Port Connecticut.

Sainsburry, D. 1995. Poultry Health and Management. Chickens Turkeys, Ducks, Geese, Quile. 3rd ed. University of Cambridge. United Kingdom.

Sinurat, A. P., D. Zainuddin dan R. Dharsono. 1995. Pengujian Penampilan Biologi Ayam Pedaging Strain Hybro pada Lantai Litter dan Kawat. Ilmu dan Peternakan. 
 
Eki. Maura, 2011.http://ketekdekil.blogspot.com/2011/02/vaksinasi-dan-pencegahan-penyakit-pada.html. Diakses Pada Tanggal 20/07/2013,  Sumedan, Jawa Barat, Indonesia.
 
Unknown 0
Sistematika
Sistematika sapi adalah sebagai berikut :
Phylum : Chordata
Sub Phylum : Vertebrata
Class : Mamalia
Sub Class : Plasentalia
Ordo : Ungulata
Sub Ordo : Arhoclactyla
Rumpun : Selonodonta
Familia : Bavidae
Genus : Bos
Sub Genus :Taurina, Bisantia, Bibavina, Bubolina, Lepsoburina
Spesies : Bos Indicus, Bos Taurus, Bos Sandaicus.
(Sastroamidjojo, 1983).

Asal-usul
Dari sejarahnya, semua bangsa sapi yang dikenal di dunia berasal dari Homacodantidae yang dijumpai pada zaman palaeocene. Adapun jenis primitifnya ditemukan pada zaman pliocene di India, Asia. Perkembangan dari jenis primitif itulah yang sampai sekarang menghasilkan tiga kelompok nenek moyang sappi hasil penjinakkan yang kita kenal (Murtidjo,1990).

Dari beberapa literatur, tidak diketahui secara pasti kapan awal penjinakan sapi dilakukan oleh manusia. Namun di pusat perkembangan kebudayaan seperti di Mesopotamia, India, Bangkok dan Eropa dikenal pada tahun 600 SM. Sedangkan dimesir kuno, konon sudah dikenal pemeliharaan sapi pada tahun 8000 SM (Murtidjo, 1990).

Bangsa-bangsa
Adapun sapi yang dihasilkan dari jenis primitif, diklasifikasikan menjadi 3 kelompok besar yang memiliki andil warna genetik sapi, yakni :

Bos Sondaicus atau Bos Banteng. Sampai sekarang masih ditemukan liar di daerah margasatwa yang dilindungi di pulau Jawa, seperti Pangandaran dan Ujung Kulon dan merupakan sumber asli Indonesia (Sastroamidjojo, 1981).

Bos Indicus atau Sapi Zebu. Sampai sekarang mengalami perkembangan di India, Asia. Yang terkenal di Indonesia adalah sapi brahman dan sapi ongole. Bos Indicus merupakan sapi berpunuk, sapi-sapi dari Bos Indicus menurunkan bangsa-bangsa sapi di daerah tropis (Sastroamidjojo, 1992).

Bos Taurus atau sapi Eropa. Sampai sekarang mengalami perkembangan di Eropa. Bos Taurus merupakan bangsa sapi yang menjadi nenek moyang dari sapi potong maupun sapi perah (Murtidjo, 1990).

Ketiga kelompok nenek moyang sapi tersebut, baik secara alamiah maupun karena peran serta manusia melalui hasil perbandingan atau persilangan berhasil mengalami perkembangan yang menurunkan bangsa-bangsa sapi modern, baik tipe potong-perah, tipe potong-kerja, tipe perah maupun tipe potong murni (Bambang,1990).

Bangsa-bangsa Sapi
Menurut Sarwono (2001) komoditas sapi yang ada di Indonesia terdiri atas:

Sapi asli Indonesia
Sapi Bali. Asal usul sapi bali adalah banteng (Bos Sondaicus) yang telah mengalami penjinakan atau domestikasi selama bertahun-tahun. Proses domestikasi yang cukup lama diduga sebagai penyebab sapi bali lebih kecil dibandingkan dengan banteng. Sapi bali jantan dan betina dilahirkan dengan warna merah bata dengan garis hitam disepanjang punggungyang disebut garis belut. Setelah dewasa, warna sapi jantan berubah menjadi kehitam-hitaman, sedangkan warna sapi betina relatif tetap. Sapi bali tidak berpunuk. Umumnya, keempat kaki dan bagian pantatnya berwarna putih (Abidin, 2002).

Sapi Madura. Merupakan sapi keturunan perkawinan silang antara Bos indicus dan Bos sondaicus. Karakteristik Sapi Madura adalah punuk yang kecil diwarisi dari Bos indicus dan warna kulit coklat atau merah bata diwarisi dari Bos sondaicus, pada kepalanya terdapat tanduk melengkung ke depan dengan melingkar bulat sabit (Murtidjo, 1992)

Sapi impor
Sapi Ongole. Merupakan sapi keturunan bos indicus yang berhasil dijinakkan di India. Sapi Ongole masuk ke Indonesia abad ke-19 dan dikembangkan cukup baik di pulau Sumba, sehingga lebih dikenal dengan Sapi Sumba Ongole. Karakteristik Sapi Ongole adalah punuk besar dan kulit longgar dangan banyak lipatan dibagian bawah leher dan pantat, telinga panjanng serta menggantung, tempramen tenang dengan mata besar, tanduk pendek dan hampir tidak terlihat, warna bulu umumnya putih kusam atau agak kehitam-hitaman dan warna kulit kuning (Murtidjo, 1992).

Sapi Brahman. Merupakan sapi keturunan bos indicus yang beerhasil dijinakkan di India, Tetapi mengalami perkembangan pesat di Amerika Serikat. Sapi ini adalah hasil campuran darah 3 bangsa sapi madura yaitu bangsa bir,buzerat, dan nellose. Sapi ini bertanduk dan warnanya bervariasi mulai dari abu-abu muda, totol-totol, sampai hitam, terdapat punuk pada punggung di belakang kepala, yang merupakan kelanjutan dari otot-otot pundak, dengan telinga yang berpendulous panjang, serta adanya pendulous yang longgar sepanjang leher. Sapi Brahman memiliki sifat yang khas yaitu ketahanannya terhadap kondisi tatalaksana yang sangat minimal, toleransi terhadap panas, kemampuannya untuk mengasuh anak, daya tahan terhadap kondisi yang jelek seperti penyakit dan parasit. Berat badan betina dewasa mencapai 585 kg sedangkan jantan dewasa mencapai 900 kg atau bahkan lebih (Blakely and Bade, 1992).

Sapi Hereford memiliki tanduk, dengan arah tumbuh kedalam dan kebawah, sifat-sifat yang menjadi kelebihan sapi ini adalah ketahanan, kemampuan merumput, daya adaptasi, efisiensi reproduksi, disposisi dan tempramen yang baik, tulang-tulang yang kuat serta perdagingan yang tebal. Warna bulunya termasuk yang paling aneh diantara bangsa-bangsa sapi, yaitu kepala putih dan badan yang berwarna merah (Blakely and David, 1992).



Sapi Polled Hereford. Memiliki ciri-ciri sama dengan Hereford, namun tidak bertanduk (AAK, 1990).

Sapi Aberden Angus. Memiliki ciri-ciri warna hitam, warna putih pada bagian pusar, tidak bertanduk, badan lebar, padat, leher dan kaki pendek (AAK, 1990).

Sapi Red Angus. Memiliki ciri-ciri warna bulu merah gelap, memiliki faktor resesif. Karakteristik sama dengan Aberdeen Angus.

Sapi Galloway. Memiliki ciri warna bulu hitam, tidak bertanduk, kaki pendek dan berbentuk persegi, memiliki daya tahan tinggi terhadap udara dingin (AAK, 1990).

Sapi Charolais. Memiliki ciri warna bulu kuning susu. jantan dan betina bertanduk, kulit longgar, punggung melekung kebawah (AAK, 1990).

Sapi Shorthorn. Berasal dari pantai timur laut Inggris, sekitar sungai Tees antara Durham dan Eork. Termasuk sapi dual purpose yaitu tipe pedaging dan tipe perah. Ada yang mempunyai punuk disebut pulled shorthorn. Berat pedaging jatan dapat mencapai 1000 kg dan betina 750 kg (Pane 1986) .memiliki ciri-ciri warna rambut putih dan merah), dengan otot kasar dan tebal (AAK, 1990).

Sapi persilangan
Sapi Santa Gertrudis. Merupakan hasil persilangan antara sapi Brahman dan sapi Shorthorn dengan 3/8 darah Brahman dan 5/8 darah Shorthron. Warna merah tua, tubuh lebih rata dan padat dari pada Brahman, bertanduk dan bergelambir, telinga rendah dan tebal. Berat sapi jantan dewasa 800 kg dan betina 780 kg (Sastroamidjojo, 1983).

Sapi Brangus. Merupakan hasil persilangan antara sapi Brahman dan Aberden Angus, dengan memiliki 5/8 darah Aberden angus dan 3/8 darah sapi Brahman. Warna hitam kelam dan ada juga merah, bertanduk, tubuh lebih padat dari brahman, tahan panas dan gigitan serangga, adaptasi pakan baik, produksi daging baik (Blakely dan Bade,1985).

Sapi Charbray. merupakan hasil crossing antara Chrolais dengan Brahman. Mengandung 1/8 sampai ¼ darah Brahman (AAK, 1990).

Sapi Braford. Merupakan hasil crossing antara Brahman dan Hereford (AAK, 1990). Mempunyai sifat yang mirip dengan hereford, warna merah, muka putih dan merah tua, pertumbuhan baik, tahan panas, caplak dan penyakit, daya tahan baik terhadap udara panas dan udara lembab, (Blakely dan Bade, 1985)

Sapi Beefmaster. Merupakan hasil crossing antara Brahman , Shorthorn, dan Hereford. Mengandung ¼ darah Hereford dan ½ darah America Brahman (AAK, 1990).

Persilangan antara sapi lokal dengan sapi unggul dilakukan untuk memperbaiki kualitas genetik dan penampilan fisik dari sapi lokal. Salah satu contoh sapi hasil persilangan antara sapi lokal dengan sapi unggul adalah sapi Peranakan Ongole yang merupakan persilangan antara sapi lokal dengan sapi Ongole murni.

DAFTAR PUSTAKA

AAK. 1998. Petunjuk Beternak Kelinci. Yayasan Kanisius. Yogyakarta.

Abidin, Zainal. 2002. Penggemukan Sapi Potong. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Blakely, J and David.H.Bade. 1992. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University Press. Yogjakarta.

Murtidjo, B.A. 1990. Beternak Sapi Potong. Kanisius Yogyakarta.

Sastroamidjojo .S.M. 1983. Ternak Potong dan Ternak Kerja. CV. Yasaguna. Jakarta.
 
Eki. Maura, 2011.http://ketekdekil.blogspot.com/2011/02/vaksinasi-dan-pencegahan-penyakit-pada.html. Diakses Pada Tanggal 20/07/2013,  Sumedan, Jawa Barat, Indonesia.
Unknown 0

Sistematika

Menurut Blakely (1991), sistematika ternak Domba yaitu :
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Class : Mammalia
Ordo : Bovidae
Genus : Ovis
Spesies : Ovis canadenis
Ovis aries

Asal-usul dan Bangsa
Domba sudah lama diternakkan orang, hanya sedikit yang dapat kita ketahui asal-usul dilakukannya seleksi dan domestikasi domba. Domba dianggap dari keturunan jenis liar seperti meufion, yaitu sejenis domba yang berekor pendek. Varietas-varietas yang terdapat di Eropa dan Asia adalah merupakan stok dasar untuk menghasilkan woll, daging, kulit serta susu (Blakely and David, 1991).

Berkembangan kegiatan perajutan dan permintaan sebagai bagian dari perkembangan kehidupan manusia, muncullah jenis dan bangsa-bangsa domba yang baru sebagai penghasil woll yang berkualitas, tentu saja dengan mengorbankan beberapa sifat yang lain. Domba Merino dari Spanyol adalah domba yang dikembangkan menjadi salah satu bangsa penghasil woll yang bagus (Blakely and David, 1991).

Domba merupakan ternak yang pertama kali di domestikan, dimulai dari daerah kaspia, Iran, India, Asia Barat, Asia Tenggara, dan Eropa. Salah satu jenis domba yang di Indonesia adalah domba ekor tipis (Salamena, 2003).

Domba  asli Indonesia

Mempunyai badan yang kecil, lambat dewasa, warna  bulu dan tanda lain tidak seragam, dan dagingnya sedikit sekali

Domba Ekor Gemuk. Berasal dari Indonesia bagian timur (Madura, Sulawesi dan Lombok). Jantan bertanduk sedangkan betina tidak, ekornya panjang, lebar dan mampu menimbun lemak yang banyak sehingga ekor menjadi sangat besar, tetapi diujung ekor tipis, karena disini tidak terdapat penimbunan lemak (Sastroamidjojo, 1983).

Domba import

Domba Merino. Berasal dari Spanyol, bulu  tebal,  jantan  bertanduk besar  serta melingkar-lingkar. Merupakan domba penghasil wool yang sangat baik. Mempunyai 3 tipe yaitu : tipe A bulunya sangat keriting, tipe B bulunya tidak terlalu keriting, tipe C bulunya tidak keriting yang sering disebut Delaire Merino (Blakely dan Bade, 1992).

Domba Rombouillet.  memiliki  ciri badan  besar,  dalam  dan padat, tulang  kuat,  jantan bertanduk sedangkan  yang betina tidak. Digunakan sebagai penghasil  daging dan wol yang cukup baik.(Blakely and Bade, 1992)

Domba Hampshire. Berasal dari Inggris, merupakan tipe  pedaging yang  mempunyai ciri badan padat dan dalam, leher  agak  panjang, kepala besar, telinga besar, warna bulu putih, bagian kaki bawah, muka  dan  bagian  telinga  sebelah  dalam  serta  keliling  mata berwarna coklat kehitaman, tidak bertanduk, telinga besar dan letaknya horisontal, badan besar, tegap, hidup baik dipadang rumput dan mudah beranak (Srigandono, 1991).

Domba Dorsett. Berasal dari Inggris, terkenal sebagi produsen wol dengan ciri-ciri kulit empat persegi panjang, leher sedang dan  dalam,  tanduk istimewa, tanduk jantan subur  dan mempunyai lingkaran. Jantan maupun betina berat badan bisa mencapai lebih dari 100 kg (Sastroamidjojo, 1983).

Domba Licoln. Merupakan domba tipe pedaging yang berbulu lebat, tidak bertanduk sering digunakan untuk perkawinan silang (Srigandono, 1991).

Domba persilangan

Domba Garut. Merupakan hasil persilangan antara domba asli dan domba marini dan domba ekor gemuk. Domba pejantan bertanduk besar melengkung ke belakang seperti spiral tetapi tidak begitu panjang. Pangkal tanduk kanan dan kiri hampir bersatu, tulang tengkorak lebar, sering digunakan untuk aduan, domba betina tidak bertanduk (Huitema, 1986).

Domba Kolombia. Merupakan persilangan antara domba licon dengan domba Rambonillet. Warna putih, muka lebar, tidak bertanduk, mudah beradaptasi (Srigondono, 1991).


DAFTAR PUSTAKA

Blakely, James dan David H. Bade. 1991. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Sastroamidjojo .S.M. 1983. Ternak Potong dan Ternak Kerja. CV. Yasaguna. Jakarta.
Eki. Maura, 2011.http://ketekdekil.blogspot.com/2011/02/vaksinasi-dan-pencegahan-penyakit-pada.html. Diakses Pada Tanggal 20/07/2013,  Sumedan, Jawa Barat, Indonesia.
Hello Gaisss! Welcome To Blog Ferdi Pardomuan Girsang!!! And Thank You For You Already Visit Blog I'm