Multimedia
PROSPEK PENGEMBANGAN AYAM LOKAL DI INDONESIA
Unknown

PROSPEK PENGEMBANGAN AYAM LOKAL DI INDONESIA
PENGANTAR
            Realitas pengembangan ayam lokal saat ini di Indonesia sudah mengalami penurunan yang sangat drastis. Akibat ayam   lokal sudah punah,  tidak dibudidayakan dengan efisien. Untuk meningkatkan jumlah  populasi ayam lokal di Indonesia,  sebaik pembudidayaan harus sesuai dengan kekurangan populasi, di setiap tahun. Pengertian Ayam lokal adalah ayam asli Indonesia yang berasal dari ayam – ayam yang telah didomestikasi. Ayam Buras adalah ayam yang biasa disebut ayam kampung, dan disebut juga ayam bukan ras. Ayam ini merupakan ayam asli Indonesia yang banyak dipelihara secara tradisional di desa – desa dipedalaman. Ayam lokal di Indonesia merupakan ayam domestikasi ayam hutan merah (Gallus gallus) dan ayam hutan hijau (Gallus Varius). Ayam hutan merah di Indonesia ada dua macam yaitu : 1). Ayam hutan merah Sumatera (G.g.gallus). 2). Ayam hutan merah Jawa (G. g. Javanicus). Ayam lokal yang sekarang berkembang   di berbagai  wilayah  desa – desa seluruh  nusantara  telah menjadi ayam – ayam lokal dengan morfologi yang beraneka ragam dan banyak jenis. Ayam lokal yang paling banyak jumlahnya adalah ayam kampung bukan ras.Ayam kampung merupakan hasil domestikasi ayam hutan merah dan ayam hutan hijau.

A.KUALIFIKASI AYAM LOKAL
Ilustrator Gambar :kandangayam-test.blogspot.com
Kelas               :  Aves
Ordo                :  Galliformes
Famili              :  Phasianidae
S.Famili           :  Phasianinae
Genus              :  Gallus
Species            :  Gallus gallus
B.JENIS AYAM LOKAL ASLI INDONESIA

a.             Ayam Kedu

          Ayam kedu adalah salah satu jenis ayam lokal yang berkembang di Kabupaten Magelang dan Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Ayam ini banyak ditemukan di Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung atau di Desa Kalikoto, Kecamatan Grabak, Kabupaten Magelang. Sekarang penyebaran ayam kedu sudah meluas di luar kedua daerah tersebut. Berdasarkan warna bulunya, ayam kedu dibedakan menjadi empat macam:

1.        Ayam Kedu Hitam. 
Dilihat dari penampilan fisiknya, seolah ayam ini berwarna hitam legam. Namun, jika diamati lebih seksama ternyata bagian kulit, pantat dan jenggernya berwarna merah. Bobot ayam jantan dewasa sekitar 2-2,5 kg dan ayam betina sekitar 1,5 kg.
Ayam kedu yang berwarna hitam merupakan tipe petelur (Nataamijaya dan Diwyanto, 1994). Ayam kedu merupakan jenis petelur yang baik (Markens dan Mohede, 1941), dari hasil penelitiannya diperoleh bahwa umur mulai bertelur 189 hari, produksi telur pada 12 bulan pertama adalah 123,9 butir dengan rataan bobot telur 50 g. Pada umumnya ayam Kedu mulai bertelur pada umur 6-7 bulan, dengan pemeliharaan secara intensif dapat mulai bertelur pada umur 4-4,5 bulan. Produksi telur selama satu tahun (umur 6-18 bulan) rata-rata 124 butir (Sunarto et al., 2004).
Produktivitas ayam kedu hitam yang diamati selama 20 mg seperti dikemukakan Nataamijaya dan Sitorus (1992) sebagai berikut: produksi telur 71 butir, bobot telur 42,4 butir, fertilitas 80,3%, daya tetas 79,6%, mortalitas 9,8%. Sementara itu produktivitas ayam kedu hitam yang dikemukakan                          
Creswell dan Gunawan (1982) adalah sebagai berikut: umur pertama bertelur 138 hari, umur 166 hari produksi 40%, puncak produksi 75%, produksi telur hen day 58,8%. Produksi telur 215 butir/tahun, produksi telur hen house 54,8%, rataan bobot telur 44,7 g, rataan konsumsi pakan 93 g/ekor dan konversi pakan 3,6. 

2.        Ayam Kedu Cemani.

          Tubuhnya hitam mulus, termasuk paruh, kuku,telapak kaki, lidah dan telak (langit-langit mulut). Daging dan tulangnya juga hitam (Rahmat, 2003). Bentuk fisik tubuhnya tinggi besar. Bobot ayam jantan 3-3,5 kg kg dan ayam betina sekitar 2-2,5 kg.
                 Bobot anak ayam Kedu Cemani umur sehari (DOC) berkisar 28-32 g/ekor, kemudian bobot ayam betina umur 5 bulan berkisar antara 1400-1500 g/ekor. Umur pertama bertelur berkisar 4,6-5 bulan dan produksi telur pada pemeliharaan diumbar dan semi intensif berkisar 56-77 butir/ekor/tahun, sementara yang dipelihara intensif dalam kandang batere dapat mencapai 215 butir/ekor/tahun. Bobot telur ayam berkisar antara 41-49 g/butir. Konsumsi ayam dewasa per hari mencapai 93 g per ekor (Iskandar, 2005). 


3.        Ayam Kedu Putih. 
Warna bulunya putih mulus. Jengger dan kulit mukanya merah, warna kakinya putih atau kekuningan. Jengger berbentuk (bergerigi) dan posisinya tegak. Bobot ayam jantan dewasa sekitar 2,5 kg dan ayam betina sekitar 1,2-1,5 kg.
                 Bentuk badan besar dan berdaging tebal, ayam betina berumur 2 tahun mempunyai bobot rata-rata 2,5 kg dan ayam jantang dengan umur yang sama mempunyai bobot 3-3,5 kg (Sunarto et al., 2004). Hasil penelitian Creswell dan Gunawan (1982) pada pemeliharaan intensif dengan pemeliharaan standard sesuai dengan kebutuhannya, ayam Kedu Putih umur 1 hari (DOC), 4, 8, 12, 16, dan 20 minggu mempunyai bobot badan sebesar 25,5, 151, 550, 875, 1352 dan 1575 g. pada penelitian lainnya dengan kondisi yang sama (standar) menghasilkan bobot badan pada umur 4, 8, 12, 16 dan 20 sebesar 140, 404, 739, 950 dan 1320 g. Produktivitas sifat produksi telur ayam Kedu Putih sebagai berikut: umur pertama bertelur 170 hari, umur 40% produksi 202 hari, puncak produksi 72%, produksi telur Hen Day 54,0%. Produksi telur 197 butir/tahun, produksi telur Hen House 49,6%, rataan bobot telur 39,2 g, rataan konsumsi pakan 82 g/ekor/hari dan konversi pakan 3,8.

4.        Ayam Kedu Merah.

          Warna bulu hitam mulus, tetapi kulit muka berwarna putih dan jenggernya berwarna merah. Sosoknya tinggi besar. Bobot ayam jantan dewasa antara 3-3,5 kg dan bobot ayam betina 2-2,5 kg. menurut fungsinya, jenis ayam ini termasuk dwiguna, yakni sebagai ayam petelur dan ayam pedaging. Uniknya, setelah bertelur selama 40 butir baru menunjukkan tanda-tanda akan mengeram.

b.             Ayam Nunukan

          Ayam nunukan adalah salah satu jenis ayam lokal yang berkembang di Pulau Tarakan, Provinsi Kalimantan timur. Ciri fisik ayam ini adalah warna bulunya merah kekuningan, paruh dan kakinya berwarna kuning atau putih kekuningan, pertumbuhan bulu sayap dan bulu ekor tidak sempurna, jengger dan pialnya (gelambir) berwarna merah. Jenggernya berbentuk wilah, dan bergerigi delapan. Anak ayam yang berumur dibawah 45 hari cenderung berbulu kapas (Disnak Kaltim, 1995).
Berat badan ayam jantan dewasa 3,4-4,2 kg dan ayam betina 1,6–1,9 kg. Ayam nunukan termasuk jenis ayam dwiguna (petelur dan pedaging). Produksi telur per tahun sekitar 120–130 butir atau 40 butir per periode bertelur. Bobot telur antara 40–60 gram/ butir. Creswell dan Gunawan (1982) menyatakan bahwa pada pemeliharaan intensif dengan pakan standar sesuai kebutuhan, ayam Nunukan umur 1 hari (DOC), 4, 8, 12, 16 dan 20 minggu mempunyai bobot badan berturut-turut 30,2, 168, 482, 843, 1304, dan 1507 g. Produksi telur per tahun sekitar 100-140 butir, bobot telur 45-55 g, prosentase penetasan 61,2% dan dewasa kelamin ayam Nunukan adalah 7 bulan (Disnak Kaltim, 1995). Kualitas telur ayam Nunukan cukup baik yaitu mempunyai bobot telur 47,1 g dan warna kerabang telur cokelat muda keputihan (Wafiatiningsih et al., 1995).

c.              Ayam Pelung




Ayam pelung banyak berkembang di Kabupaten Cianjur dan Sukabumi, Jawa Barat. Ciri fisik ayam ini adalah tubuh berukuran besar, tegap dan temboloknya menonjol. Selain itu, kakinya panjang dan kokoh serta bagian pahanya berdaging tebal. Kepala ayam jantan memiliki jengger yang cukup besar dan berbantuk wilah, posisinya tegak, bergerigi nyata dan berwarna merah cerah. Jengger ayam betina tidak berkembang dengan baik. Warna bulu ayam pelung kuning bercampur merah dan sedikit semburat hitam. Ayam jantan memiliki suara kokok yang khas sehingga banyak dipelihara sebagai klangenan (binatang kesayangan). Ayam pelung dianggap berkualitas jika posisi leher saat berkokok tegak dan suara kokokannya tinggi terdengar sampai jauh.
          Bobot ayam jantan dewasa antara 3,5–5,5 kg dan ayam betina 2,5-3,5 kg. Produksi telurnya sekitar 39–68 butir pertahun atau 13–17 butir per periode bertelur. Berat telur sekitar 40–50 gram per butir. Ayam bertubuh bongsor ini mulai bertelur pada umur 6–7 bulan.

d.             Ayam Sentul
 Ayam lokal ini berkembang didaerah Ciamis, Jawa Barat. Meskipun asalnya sebagai ayam aduan, sekarang banyak dipelihara sebagai ayam pedaging dan petelur. Berdasarkan warna bulunya, ayam sentul terdiri dari lima varietas, yakni Sentul Kelabu (berwarna abu-abu), Sentul Geni (berwarna abu-abu kemerahan), Sentul Jambe (berwarna merah jingga), Sentul Batu (berwarna abu-abu keputihan), Sentul Debu (berwarna debu), dan Sentul Emas (berwarna abu-abu kekuningan). Warna ayam sentul cukup menarik, polanya mirip sisik naga.
          Ayam sentul mempunyai produksi telur yang banyak. Satu periode peneluran dihasilkan 12-30 butir telur. Prosentase penetasan tinggi yaitu 90%.

e.              Ayam Banten

          Ditilik dari namanya, sudah barang tentu ayam ini berasal dari daerah Banten. Ayam jantan yang berpenampilan prima dipelihara sebagai ayam aduan, sedangkan ayam yang kurang prima dijual sebagai ayam potong. Bobot ayam jantan dewasa sekitar 2 kg dan ayam betina sekitar 1,2 kg. produksi telur sekitar 16 butir per periode bertelur.

f.              Ayam Gaok



Ayam lokal ini berasal dari Pulau Puteran, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Keistimewaannya adalah suara kokoknya yang cukup panjang mirip ayam Pelung. Bentuk fisik ayam Gaok jantan besar, tegap, dan gagah. Ukuran jengger dan pialnya besar dan berwarna merah. Warna kuning kehijauan mendominasi bulu-bulunya, ditambah lagi semburat merah dan hitam pada beberapa bagian. Kaki berwarna kuning.
Berat ayam jantan dewasa sekitar 4 kg dan ayam betina sekitar 4 kg dan ayam betina sekitar 2-2,5 kg. ayam Gaok yang dipelihara secara intensif selama pengamatan 12 minggu dapat menghasilkan produksi telur sebanyak 30,2 butir, bobot telurnya 46,7 g, fertilitas 80,1%, daya tetas 79,4%, mortalitas 15,3% dan bobot badan pada umur 8 minggu sebesar 515,8 g (Nataamijaya dan Sitorus, 1992).

g.             Ayam Ciparage
Ayam lokal ini berkembang di daerah Karawang, Jawa Barat. Ciri fisiknya mirip ayam Bangkok, tetapi ukuran tubuhnya sedikit lebih kecil. Sosoknya ideal, tinggi tubuh dan ukuran tubuhnya tampak serasi. Jenggernya berwilah. Memiliki pial tunggal yang menjadi satu dengan cuping telinga. Berat ayam jantan dewasa sekitar 2,5 kg dan ayam betina dewasa sekitar 1,5 kg. Jumlah telur rata-rata 14 butir setiap periode bertelur.

h.             Ayam Bali
Sesuai denan namanya, ayam ini berkembang pasat di Pulau Bali. Pejantannya di pelihara sebagai ayam sabug (aduan). Pertumbuhan bulu badannya cukup sempurna. Penampilan fisiknya tergolong prima, yakni besar, padat dan jika berdiri tegak membentuk sudut 60O. sayangnya bagian lehernya pendek dan kepalanya sedikit kecil. Ukuran jengger relatif kecil dan warnanya merah pucat. Ayam jantan dewasa beratnya sekitar 2,5 kg. jumlah telur rata-rata 14 butir setiap periode bertelur.

 i.               Ayam Wareng

Daerah penyebaran ayam lokal ini meliputi Jawa Tengah dan Jawa Barat. Ayam yang suara kokoknya cukup nyaring ini sangat lincah dan dan agak sulit ditangkap. Umur kawinnya tergolong muda, yakni empat  bulan . ukuran kepala dan leher si pejantan kecil. Kakinya ramping dan panjang. Warna bulunya ada tiga yakni hitam, blorok (belang–belang putih dan hitam), dan putih.
          Berat tubuh ayam pejantan dewasa rata-rata 1,5 kg dan ayam betina sekitar 1 kg dan produksi telurnya berkisar 15 butir per periode bertelur. Apabila dipelihara secara intensif produksi telurnya dapat mencapai 24-28 butir per periode bertelur, dikarenakan induk betina tidak memiliki sifat mengeram. Turunan ayam ini dapat direkomendasikan untuk jenis produksi telur seperti ayam Kedu (Kartiko, 1995).

 j.               Ayam Ayunai

Jenis ayam lokal ini berasal dari Merauke, Papua. Ciri fisiknya sangat khas, yakni bagian kepala dan temboloknya tidak ditumbuhi bulu alias gundul. Bagian lehernya sedikit ditumbuhi bulu, tepatnya di atas tenbolok. Berat tubuh ayam jantan dewasa berkisar 3,4-4 kg dan ayam betina berkisar 1,5-2 kg.
          Ayam Ayunai merupakan jenis petelur dan pedaging. Produksi telur 10-14 butir per periode peneluran. Dalam satu tahun produksi telur sebanyak 40-60 butir. Bobot telur 6-75 g. Prosentase karkas 75-80%. Umur siap kawin 8 bulan (jantan) dan 7 bulan (betina). Umur mulai fase produksi 6 bulan, lama produksi bertelur 30 bulan. Jarak antara masa bertelur 10-14 hari. Masa rontok bulu antar masa bertelur 6 minggu (Diwyanto dan Prijono, 2007).

k.             Ayam Tolaki
Sulawesi tenggara adalah daerah asalnya. Warna bulu ayam jantan dewasa mirip ayam hutan merah (Gallus gallus). Bulu pelana dan leher berwarna merah keemasan. Gerakannya lincah dan terkesan liar. Badan tampak langsing, kekar dan berotot, punggung agak panjang, sayap menempel rapat di sisi badan.betuk kepala kecil, bulat, berparuh pendek kuat dan melengkung pada ujungnya. Mata berukuran sedang dan tajam dengan ekspresi berani. Bulu ekor panjang melengkung dan cukup lebat. Bentuk kaki langsing, panjang dan kokoh dengan telapak kaki seimbang. warna bulu pada ayam betina bervariasi mulai warna cokelat dengan kombinasi kuning, hitam serta campuran dari beberapa warna. Warna paruh kuning gelap atau kekuningan. Jengger kecil bergerigi berbentuk pea (single/kacang kapri), cuping telinga dan pial juga kecil dan menempel rapat pada kepala. Leher panjang, tegak dan kokoh terteutup bulu yang menempel  ketat (Nataamijaya et al., 1995).
          Berat ayam dewasa sekitar 2 kg dan ayam betina sekitar 1.5 kg. Produksi telur rata-rata 20 butir per periode bertelur (Rahmat, 2003).

l.               Ayam Delona

          Jenis ayam petelur ini berasal dari Kecamatan Delangu, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Tubuhnya langsing dan berbulu putih bersih. Bagian jengger, gelambir, dan kulit mukanya berwarna merah. Warna kakinya putih, kadangkala ada yang kuning keputiih-putihan. Sosoknya sekilas mirip ayam ras petelur leghorn strain hyline.
          Berat ayam jantan dewasa sekitar 2 kg dan ayam betina sekitar 1 kg. rata-rata produksi telurnya per tahun sebanyak 200 butir. Berat telur yang kerabangnya (cangkang) berwarna cokelat ini antara 40-45 gram per butir.

m.           Ayam Merawang/Bangka
Ayam merwang disebut juga ayam Bangka. Nama tersebut didasarkan pada penyebaran dari ayam ini yang terkonsentrasi di kecamatan Merawang di daerah Sumatera bagian selatan khususnya di Pula Bangka.
          Warna bulu dominan ayam Merawang adalah cokelat, merah dan kuning keemasan, dengan bulu-bulu columbian (warna bagian ujung sayap dan ekor berwarna hitam). Warna kulit paruh dan ceker (shank) putih atau kekuningan, sedangkan warna mata kuning. Jengger jantan berukuran besar, tegak, dan bergerigi bagian atasnya dengan ukuran pial juga besar. Bobot badan dewasa jantan sekitar 1,8-2,7 kg dan betinanya sekitar 1,2-1,7 kg. Keunggulan ayam ini adalah sebagai produksi telur dan daging.
          Ayam Merwang mempunyai potensi ekonomi yang cukup tinggi. Menurut Iman (2002) bibit ayam Merawang dapat diusahakan sendiri serta perawatannya tidak sulit karena sudah beradaptasi dengan lingkungan Indonesia. Bila dipelihara secara intensif pertumbuhannya relatif cepat. Ayam Merawang betina bertelur pertama kali pada umur 5,5 bulan. Bobot telur berkisar antara 38-45 g. produksi telur dapat mencapai 120-125 butir/ekor/tahun.

C.PROSPEK PENGEMBANGAN
Prospek pengembangan ternak ayam lokal di Indonesia  memiliki potensi, dan peluang yang sangat positif untuk meningkatkan swambada  ke depan pada tahun 2020 yang akan datang. Dan dapat juga sebagai penyuplai tambahan deficit permintaan daging pada tahun ke depan. Banyak hal yang mendukung dan faktor kendala – kendala pengembangan ayam lokal di seluruh wilayah nusantara yang berada di desa – desa berbagai daerah dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ada beberapa fakta sebagai berikut : 1). Ayam lokal sudah cukup lama dipelihara secara turun temurun oleh masyarakat lusa diberbagai daerah, meyebar di seluruh penjuru nusantara. Jumlah populasi ayam lokal saat ini di Indonesia berdasarkan Data Statistik Pertanian, Kementerian Pertanian (BDSP) populasi ayam lokal secara nasional pada tahun 2010 berjumlah 257.544.000 ekor. Dalam rentang waktu setahun berdasarkan angka sementara Kementan, tepatnya tahun 2011 telah terjadi peningkatan populasi menjadi 274.893.000 ekor. 
 Permintaan terhadap ayam lokal di Indonesia, saat ini mengalami penurunan akibat persaingan global dunia industri yang dilakukan pemerintah untuk mencukupi kebutuhan daging didalam negeri sehingga pemerintah mengambil  kebijakan mengimportir daging dari luar negeri untuk mencukupi kebutuhan permintaan akan daging di Indonesia. Begitu pula dengan banyaknya industri – industri  perusahaan perunggaasa ayam ras sehingga pengembangan ayam lokal di Indonesia terkebelakangkan oleh pemerintah, pengusaha, peternak, dan masyarakat luas. Protein hewani yang berasal dari ayam lokal banyak juga diminati masyarakat untuk upacara – upacara keagaman, dan upacara adat tradisional, adapula sebagai bahan pengobatan. Adapun hal yang diketerbelakangkan pengembangan ayam lokal ini yaitu : dengan bebertambahnya jumlah penduduk di Indonesia sehingga lahan untuk pemeliharaan ayam lokal sangat terbatas, meningkatnya pendapatan rumah tangga sehingga masyarakat tidak lagi memelihara ayam  lokal sebagai penghasilan tambahan atau tabungan dikemudian hari, lebih baik membeli ayam yang sudah dipotong langsung dipasar dan masih segar. Ada pula perubahan gaya hidup modern dan meningkatnya kesadaran akan gizi dalam menyeimbangkan kemampuan dalam mencerdaskan regenerasi kehidupan bangsa Indonesia.

Kontribusi ayam lokal dalam menyumbangkan daging cukup besar. Jika dilihat dari angka produksi secara nasional, sudah barang tentu angka produksi untuk periode 2010/2011 akan terus meningkat. Seperti data yang juga telah dilansir oleh BDSP di mana sebanyak 267,60 ton daging ayam lokal nasional telah diproduksi pada tahun 2010 dan angka sementara pada tahun 2011 tercatat sebanyak 283,10 ton.
Kemajuan angka prosuksi ayam lokal tidak hanya pada produksi daging, telur juga terus meningkat. Angka produksi telur ayam lokal nasional pada tahun 2010 terdata sebanyak 175,50 ton. Pada tahun 2011 berdasarkan data sementara dari Kementan angka produksi telur sebanyak 179,60 ton.
      Kontribusi ayam lokal dalam menyumbangkan daging cukup besar,sekitar 294,9 ribu ton (Dirjennak,2008),atau 16,97% terhadap produksi daging  secara nasional dan 31% terhadap daging unggas secara keseluruhan. Sedangkan produksi telur sekitar 1.382 ribu ton atau 15, 65% terhadap produksi telur ayam keseluruhan berbagai jenis unggas di Indonesia.
            Karakteristik produk unggas yang dapat diterima oleh masyarakat Indonesia yang sebagian besar mayoritas, sehingga harga relatif meningkat di hari – hari besar seperti hari raya Idul Fitri, dengan akses yang mudah diperoleh karena sudah merupakan kebutuhan akan protein hewani dan merupakan barang publik di seluruh nusantara.
            Ayam lokal cukup adaptif terhadap iklim tropis dan tahan terhadap pengelolaan dan lingkungan yang buruk serta lebih rentan terhadap penyakit. Di Indonesia pemeliharaan ayam lokal sangat mempunyai keuntungan yang lebih besar sebab daya tahan dari penyakit lebih cenderung kebal daripada ayam ras.
Mewujudkan kedaulatan pangan untuk memenuhi kekurangan kebutuhan protein hewani di Indonesia. Melestarikan ayam – ayam lokal supaya tidak punah dimakan kemajuan jaman yang serba teknologi dan membudidayakan secara terus menerus sehingga menghasilkan keturunan – keturunan yang lebih baik untuk dipelihara.

KESIMPULAN
   1.      Prospek pengembangan ternak ayam lokal di Indonesiamemiliki potensi dan peluang yang sangat positif untuk meningkatkan swambada daging ke depan di tahun 2020 yang akan datang.
   2.      Mewujudkan kedaulatan pangan di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA :
Duwi Astuti, 2010.Ayam Lokal Indonesia.http://duwiszone.blogspot.com/2010/12/ayam-lokal-indonesia.html,diakses 1 Mei 2013.
Nataamijaya, AG, K. Diwyanto, SN. Jarmani dan haryono. 1995. Konservasi Ayam Buras Langka (Pelung, Nunukan, Gaok, Kedu Putih, Sentul dan Jenis Ayam Buras lainnya). Laporan Penelitian, Balai Penelitian Ternak Bekerjasama dengan Proyek P4NP Badan Litbang Pertanian.
Wafiatiningsih, I, Sulistyono, dan RA Saptati. 1995. Performans dan Karakteristik Ayam Nunukan. Prosiding Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi Pengembangan Ayam Lokal. Puslitbangnak. Badan Litbang Pertanian dan Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang.
Diwyanto, K dan S. N. Prijono, 2007. Keanekaragaman Sumber Daya Hayati Ayam Lokal Indonesia: Manfaat dan Potensi. Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Nataamijaya, AG dan K. Diwyanto. 1994. Konservasi Ayam Buras Langka, Koleksi dan Karakterisasi Plasma Nutfah Pertanian. Prosiding Review Hasil dan Program Penelitian Plasma Nutfah Pertanian.

Nataamijaya, AG dan P. Sitorus. 1992. Program Konservasi Ayam Buras Langka. Laporan Penelitian. Proyek Penelitian Pemanfaatan dan Pelestarian Plasma Nutfah Pertanian. Badan Litbang, Deptan.

Kartiko, M. 1995. Ayam Wareng Tangerang, Trubus. Th XXVI, Oktober 1005. Hal: 38-39.

Unknown

Hello Gaisss! Welcome To Blog Ferdi Pardomuan Girsang!!! And Thank You For You Already Visit Blog I'm